Kamis, 29 Mei 2008
Selasa, 27 Mei 2008
Kendali Waktu Bukan Ditangan Kita

Dan bagi masing-masing mereka derajat menurut apa yang telah mereka kerjakan dan agar Allah mencukupkan bagi mereka (balasan) pekerjaan-pekerjaan mereka sedang mereka tiada dirugikan.
(QS. Al Ahqaf :19)
Hembusan nafas ini adalah potongan-potongan waktu bagi seorang hamba. Berlalunya satu hembusan nafas, berarti berkurang pula sisa waktu yang akan kita jalani. Lalu, kemanakah larinya hembusan nafas yang selama ini kita buang? Bersama amal-amal macam apakah hembusan nafas itu menghilang ?
Maka, senantiasa mengerjakan amal kebaikan, merupakan salah satu hal terbaik yang dapat kita lakukan untuk mengiringi setiap hembusan nafas kita. Dengan amal-amal yang kita lakukan, potongan waktu yang kita jalani ini akan menjadi sebuah tabungan pahala yang terus bertambah sebagai modal pertemuan kita dengan Allah SWT.
Bagi orang-orang yang berbuat baik, ada pahala yang terbaik (surga) dan tambahannya. Dan muka mereka tidak ditutupi debu hitam dan tidak (pula) kehinaan. Mereka itulah penghuni syurga, mereka kekal di dalamnya.(QS. Yunus :26)
Hembusan nafas ini seperti tinta yang akan mengukir jalan hidup kita. Rasulullah hanya hidup selam 63 tahun, tetapi ketika orang mengkaji jalan hidup beliau seolah-olah tak pernah habis untuk membahas dan memujinya bahkan sampai akhir zaman. Tidak ada yang telah membuat usia para sahabat dan ulama seperti Abu Bakar, Umar bin Khatab, Ali bin Abu Thalib, Imam Syafii, Imam Ahmad, Shalahuddin Al Ayyubi, dan Thariq bin Ziyad seolah terus memanjang hingga akhir zaman kecuali karena amal sholeh dan semangat mereka dalam menyambut seruan Allah dan Rasul-Nya.
Mereka adalah orang-orang cerdas yang mampu mempersiapkan hidupnya untuk menghadapi kematian yang mereka sendiri tidak tahu kapan itu akan terjadi.
Rasulullah SAW bersabda “ Orang cerdas adalah yang selalu melakukan introspeksi diri dan beramal untuk menyiapkan hari setelah kematian.” (H.R. Turmudzi)
Ibnu Umar r.a. berkata, seorang laki-laki dari Anshar bertanya, “Siapakah yang paling cerdik dan mulia wahai Rasulullah?” Rasulullah saw menjawab, “ Orang yang paling banyak mengingat kematian dan paling mempersiapkan bekal untuknya. Itulah orang-orang yang paling cerdik; mereka memboyong kemuliaan dunia dan akhirat.” (H.R. Ibnu Majah).
Tidak ada orang di dunia ini yang mampu menahan dirinya dari kematian. Nabi Sulaiman yang diberi kekuasaan hingga mampu menguasai manusia, jin, serta menguasai bahasa binatang tidak dapat menolak kematian yang menghampirinya. Nabi Ibrahim sang kekasih Allah pun pasrah saat kematian menjemputnya, bahkan Nabi Muhammad saw yang sangat disegani para malaikat pun tunduk dengan sunatullah ini. Mereka adalah orang-orang yang dekat dengan Allah, tetapi bukan berarti mereka diberi waktu sesukanya untuk hidup di dunia ini. Mereka terus bekerja dengan amal-amal nyata untuk mendesain jejak – jejak waktu yang akan mereka lalui.
Penggalan waktu yang tersisa, saat ini, adalah peluang kita untuk mendesain dan mengamalkan amal-amal sholeh sebagai bekal berjumpa dengan Allah yang mungkin akan terjadi beberapa jam atau bahkan menit kedepan.
Ibnu Mas’ud ra berkata, “ Saya tidak pernah menyesal melebihi penyesalanku pada hari yang matahari tenggelam padanya dan umurku berkurang dengannya, sementara amal (kebaikan) ku tidak bertambah padanya.”
Ada beberapa cara agar sisa waktu yang akan kita lalui ini menjadi lebih bermakna :
1. Bersegera dalam beramal
Bersegera dalam beramal dan tidak menunda-nunda pekerjaan adalah salah satu sikap orang yang menghargai waktu. Dia tidak pernah berpikir mengerjakan sesuatu nanti atau esok hari. Karena waktu yang kita miliki hanyalah hari ini. Kemarin bukan lagi milik kita, ia telah berlalu dan tidak akan kembali lagi. Apa yang telah kita lakukan menjadi kenangan hari ini. Ketika masa lalu kita dipenuhi dengan amal sholeh, beruntunglah kita. Namun ketika masa lalu itu dipenuhi dengan hal yang sia-sia, maka saat ini dan pada detik ini pulalah kesempatan kita untuk bertaubat, bukan nanti atau esok hari. Karena apa yang akan terjadi nanti dan esok hari kita tak pernah tahu. Hari esok adalah sesuatu yang masih merupakan hak Allah. Terserah kepada Allah apakah akan memberinya kepada kita atau tidak.
Allah memegang jiwa (orang) ketika matinya dan (memegang) jiwa (orang) yang belum mati di waktu tidurnya; maka Dia tahanlah jiwa (orang) yang telah Dia tetapkan kematiannya dan Dia melepaskan jiwa yang lain sampai waktu yang ditetapkan. Sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat tanda- tanda kekuasaan Allah bagi kaum yang berfikir. (QS. Az Zumar :42)
Dari Ibnu Umar rodhiallahu ‘anhu berkata: Rasulullah sholallahu ‘alaihi wa sallam memegang pundakku dan bersabda, “Jadilah engkau di dunia ini seperti orang asing atau penyeberang jalan.” Ibnu Umar rodhiallahu ‘anhu berkata, “Jika kamu berada di sore hari, jangan menunggu pagi hari, dan jika engkau di pagi hari janganlah menunggu sore, manfaatkanlah masa sehat. Sebelum datang masa sakitmu dan saat hidupmu sebelum datang kematianmu.” (HR. Bukhari)
Setiap hendak tidur, Muhammad bin Wasi’ berkata kepada keluarganya, “ Saya menyerahkan kalian kepada Allah!, boleh jadi tidur in masa kematianku, sehingga aku tidak akan bangun lagi di dunia.”
2. Membuat skala prioritas
Seorang hamba hendaklah senantiasa menyadari tentang terbatasnya waktu yang ada. Boleh jadi hari ini merupakan saat-saat terakhir merasakan indahnya kehidupan didunia. Sehngga, ia tidak akan memboroskan waktu untuk hal-hal yang kurang bermanfaat, apalagi yang membawa bencana.
Oleh karena itu, memilih amal yang utama, mengerjakan hal-hal yang lebih penting dan berharga, merupakan sesuatu yang dianjurkan. Janganlah kita menjadi orang yang mudah mengikuti sesuatu yang kita sendiri tidak tahu manfaatnya buat kita.
Menggunakan waktu secara efektif dan efisien dengan beramal berdasarkan skala prioritas adalah sebuah cara menghargai waktu yang kita jalani. Hasan Al Banna berkata “ Kewajiban itu lebih banyak dari waktu yang tersedia. Karena itu bantulah orang lain untuk memanfaatkan waktunya, dan apabila Anda memiliki urusan (dunia), maka persingkatlah dalam menyelesaikannya.”
Seorang sahabat bertanya, "Ya Rasulullah, yang bagaimanakah orang yang baik itu?" Nabi Saw menjawab, "Yang panjang usianya dan baik amal perbuatannya." Dia bertanya lagi, "Dan yang bagaimana orang yang paling buruk (jahat)?" Nabi Saw menjawab, "Adalah orang yang panjang usianya dan jelek amal perbuatannya." (HR. Ath-Thabrani dan Abu Na'im)
3. Instropeksi dan memohon ampunan kepada Allah
Kehidupan di dunia ini tidak lama, hanya bagai musafir yang singgah sejenak untuk bersiap-siap melanjutkan perjalanannya lagi. Tapi pada hakikatnya, pada kehidupan yang singkat inilah akan sangat mempengaruhi kondisi kita pada kehidupan kekal diakhirat nanti. Lewat amal kita di dunia inilah penentu tempat kita apakah di surga atau neraka. Lewat perjuangan di dunia inilah kita akan selamat atau tidak dari hari peng-hisab-an di hadapan Allah SWT. Sehingga, sudah selayaknya bagi seorang hamba untuk selalu mengintrospeksi perbekalan yang selama ini sudah disiapkan sebagi bekal perjalanan ke akhirat kelak.
Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat); dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.(QS. Al Hasyr :18)
Masing-masing orang akan datang kepada Allah dengan amal perbuatan yang dikerjakannya sendiri di dunia. Keshalihan orang tua tidak bisa diandalkan anaknya dihadapan Allah kelak. Kesholehan seorang istri bukan jaminan bagi sang suami untuk selamat dari siksa neraka. Kesholehan orang-orang dekat di sekitar kita mungkin bisa kita banggakan dihadapan manusia, tetapi dihadapan Allah apakah itu bisa kita banggakan?
Dan hanya kepunyaan Allah kerajaan langit dan bumi. Dan pada hari terjadinya kebangkitan, akan rugilah pada hari itu orang-orang yang mengerjakan kebathilan. Dan (pada hari itu) kamu lihat tiap-tiap umat berlutut. Tiap-tiap umat dipanggil untuk (melihat) buku catatan amalnya. pada hari itu kamu diberi balasan terhadap apa yang Telah kamu kerjakan.(QS. Al Jaatsiyah:27-28)
Dari hasil intopeksi, akan kita sadari bahwa sebagai manusia kita tak mungkin lepas dari kesalahan, maka sudah selayaknya lidah ini tak pernah henti untuk beristighfar dan memohon ampun kepada Allah SWT.Wallahu’alam.
Abu Layali
