Minggu, 01 Maret 2009

Ibroh

Dahulu kala ada seorang anak kecil yang suka bermain dengan pohon apelnya, tiap hari ia menaiki pohon itu, berayun dirantingnya, dan sesekali memetik buahnya, dia sangat senang sekali.....begitu juga pohon apel itu, ia mempunyai teman yang senang mengunjunginya tiap hari dan mengajaknya bermain.

Hari berganti hari, dan tahun-demi tahunpun berlalu.Tiba tiba si anak kecil itu tak pernah mengunjungi lagi pohon apel itu....dan sipohon apel itu pun terus menunggu...

Hingga setelah beberapa tahun berlalu ketika sianak kecil itu sudah beranjak dewasa...ia kembali mengujungi pohon apel itu. Si pohon apel senang melihatnya “Mari kemari main lagi bersamaku” kata pohon apel.

“ Aduh sayang sekali aku tak punya waktu”

“Kalau begitu ada yang bisa aku bantu”tanya pohon apel

“Aku ingin membeli mainan tetapi aku tak punya uang sepeserpun!!”

“ Kalo begitu aku bisa membantumu, kau petik saja semua buah apelku, lalu kau jual kepasar, dan uang yang kau dapat itu bisa kau belikan mainan yang kau suka”

Si anak kecil itupun kemudian memetik semua buah apel itu, ia terlihat senang sekali....tapi hari kemudian berlalu berganti tahun, si anak kecil itu tak pernah lagi mengunjungi pohon apel itu...dan sipohon apel itupun terus menunggu

Maka setelah beberapa tahun berlalu, anak itu kembali lagi dan sudah menjadi seorang dewasa. Kata sipohon apel “ hai...mari kesini main lagi dengan ku, sudah lama aku menantimu”

“Maaf aku tak ada waktu, aku telah menikah kini, dan aku perlu rumah”

“oh...kalo begitu kau petik saja semua rantingku, dan kau bisa buat menjadi sebuah rumah kayu dengannya”

Maka si pemuda itu senang sekali, ia petik semua ranting si pohon apel... tapi waktu berlalu dan pemuda itu kembali melupakan sipohon apel itu.

Sampai akhirnya si pemuda itu datang lagi sudah dalam kondisi menjadi seorang bapak, kata sipohon apel “ lama sekali aku menunggumu, kemarilah main lagi denganku”

“Maaf, anak ku mengajakku berlibur, aku ingin bertamasya kepantai menaiki sampan tapi aku tak punya dana sama sekali”

“ Oh tenanglah aku masih punya batang yang kuat, yang bisa kau gunakan untuk membuat perahu”

Maka waktu berlalu dan ia mulai lupa lagi pada pohon apel itu, sampai ketika waktu telah berlalu dalam hitungan windu, datanglah kembali si anak itu dalam kondisi tua.

Kata sipohon apel “ aduh senang sekali kau datang, tapi aku tak punya lagi buah untuk kau makan, tak punya ranting untuk kau ambil, adan dahan untuk kau naiki”

“Ah aku tak butuh itu...aku sudah tua, jangankan untuk berayun-ayun didahanmu, untuk memakan buahmupun aku tak sanggup”

“Kalau begitu apa yang kau inginkan”

“ Aku tak ingin apa-apa, aku sudah lelah menjalani hidupku. Aku hanya ingin beristirahat didekatmu ini menghabiskan masa senjaku”

Kata sipohon apel itu dengan senyum penuh keteduhan “ Kalo begitu kemarilah...aku masih punya akar yang kuat dan hangat untuk tempat merebahkan tubuhmu....”


Mungkin inilah gambaran seorang anak dan kedua orang tuanya (sipohon apel) bagaimana kita(sianak) ketika kecil dengan riangnya bermain , bercanda dengan orang tua kita. Dan ketika waktu berlalu dan kita tinggal jauh dari mereka, kadang kita mendatanginya hanya ketika butuh, hanya ketika punya masalah...atau sekedar rutinitas formal(Idul Fitri dan Idul Adha)....tapi perhatikanlah orang tua kita yang senantiasa menerima kita dengan penuh kasih, dengan apa adanya, dan dengan segenap apa yang ia sanggup berikan setelah lama kita tinggalkan.

Maka mengapa itu terjadi . Karena orang tua telah terbentuk format cinta dalam dirinya, telah tersibghoh ia dengan energi cinta...maka imbas yang diberikan akan berbeda dengan kondisi anaknya yang mungkin belum pernah mengorbankan harta dan jiwanya .

Sedang orang tua yang telah mengorbankan hartanya untuk mempertahankan buah hati, mengorbankan nyawanya untuk melahirkan sibuah hati......... telah tau apa itu cinta dan bagaimana mengalirkannya sehingga tabiat cinta pun mendarah disana.

Bersama Kabilah Cinta

By Abu Layali


Cinta, sebuah kata yang mungkin telah mengalami degradasi diabad kekinian ini, sebuah penyempitan kata yang membuat ummat ini kehilangan makna cinta itu sendiri.

Sejarah telah membukukan berderet-deret sejarah berbau kecintaan pada lembaran-lembaran tahunnya. Melegendalah Taj Mahal, dikenanglah Romeo-Juliet, diburulah puisi Kharil Gibran, dan membumilah kisah Laila Majnun. Tapi sekali lagi kini cinta telah kehilangan maknanya.

Ketika cinta telah tergeser maknanya ia tidak lebih dari urusan perut, dan “komponen - komponen” dibawahnya.

Apalah arti Khadijah yang sudah berusia 40 tahun bagi sang nabi SAW itu jika dibanding Aisyah yang masih belia, tapi faktanya ialah wanita yang selalu dikenang sang rasul sampai akhir hayatnya,sampai-sampai aisyah berkata “tidak ada perempuan yang lebih aku cemburui melainkan Khadijah.
Sebuah keunikan cinta dan kasih sayang, karena memang disitulah cinta itu hakikinya muncul, ia muncul ketika ada saling memberi, ia terkuak ketika ada saling membangun dan menumbuhkan, dan ia mekar ketika ada saling mengisi.Dan inilah ungkapan sang rasul kepadanya :"Khadijah beriman kepadaku ketika orang-orang ingkar, dia membenarkan aku ketika orang-orang mendustakan dan dia menolongku dengan hartanya ketika orang-orang tidak memberiku apa-apa."khadijah lah yang memberi sesuatu pada sang nabi, ia-lah yang mengawal sang muhammad ini dengan kerasulannya, kemudian institusi cinta itu melebar ke area langit sehingga jibril berkata :"Wahai Rasulullah, inilah Khadijah telah datang membawa sebuah wadah berisi kuah dan makanan atau minuman. Apabila dia datang kepadamu, sampaikan salam kepadanya dari Tuhannya dan aku, dan beritahukan kepadanya tentang sebuah rumah di syurga dari mutiara yang tiada keributan di dalamnya dan tidak ada kepayahan."

Dan pada lini lain, ketika cinta itu bersifat menumbuhkan maka sang nabi itupun telah menumbuhkan Aisyah menjadi seorang guru ilmu,pada masa kepulangan sang Nabi itu ke hadapan ilahi, Humaira yang baru berumur 19 tahun itu telah menjadi tempat rujukan fatwa para sahabat.Dan tumbuh pulalah istri istri beliau yang lain seperti bunga-bunga yang unik diantara ribuan bunga sampai-sampai mereka mengatakan “ Tiap kami merasa, kamilah yang paling disayangi rasulullah” .

Mungkin jika diabad kekinian ini muncul beribu-ribu jamaah rumah tangga yang “siap cerai”, bisa jadi karena memang tidak ada pertumbuhan disitu, tidak ada yang berkembang disitu.Ketika wajah mulai berkerut, dan lemak menumpuk tak ada skill yang terus berkembang, tak ada profesionalisme yang tumbuh, dan tak ada kepribadian yang terbentuk. Mereka tetap bertahan dengan status “suami-istri” hanya karena adanya anak yang memang secara hakiki sedang mereka tumbuh kembangkan, dan itulah penopangnya.

Sangat menarik ketika islam memperkenalkan pernikahan dengan target untuk mendapatkan “mawadah wa rahmah”. Mawadah ( keelokan fisik ) akan berperan pada rentang tahun-tahun pertama, tapi selanjutnya rahmah (skill,profesionalisme,kepribadian)-lah yang memegang kendali selajutnya. Hingga jangan heran ketika seorang suami yang ditinggal sang istri biasanya akan terkenang bukan pada kecantikannya tetapi pada kepribadiannya, begitu pula sang istri. Dan pada pusaran itulah ia merambah dunia rumah tangga.....saling menumbuhkan,....saling mengembangkan,......saling memberi...sampai pada pagu tertinggi. Maka, cinta sejatinya bukan terletak pada “ aku akan mati jika kau mati”, bukan pada “hidupku sedih tanpamu”, bukan pada “ engkaulah segalanya bagiku”, bukan itu...... karena cinta sejatinya bukan untuk memiliki ,bukan untuk merampas, bukan untuk ke-aku-an, tapi cinta adalah yang selalu membuat obyek yang kita cintai berpendar dan bersinar karena energi cinta kita.

Wanginya mekar bunga dan indahnya kompleksitas alam ini itulah penjabaran cinta sang Khaliq lewat ayat kauliyahnya.
“Matahari dan bulan (beredar) menurut perhitungan.Dan tumbuh-tumbuhan dan pohon-pohonan kedua-duanya tunduk kepada nya.Dan Allah Telah meninggikan langit dan dia meletakkan neraca (keadilan).Supaya kamu jangan melampaui batas tentang neraca itu.Dan Tegakkanlah timbangan itu dengan adil dan janganlah kamu mengurangi neraca itu.Dan Allah Telah meratakan bumi untuk makhluk(Nya).Di bumi itu ada buah-buahan dan pohon kurma yang mempunyai kelopak mayang. Dan biji-bijian yang berkulit dan bunga-bunga yang harum baunya.Maka nikmat Tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan? Dia menciptakan manusia dari tanah kering seperti tembikar, Dan dia menciptakan jin dari nyala api. Maka nikmat Tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan? Tuhan yang memelihara kedua tempat terbit matahari dan Tuhan yang memelihara kedua tempat terbenamnyaMaka nikmat Tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan;Dia membiarkan dua lautan mengalir yang keduanya Kemudian bertemu, Antara keduanya ada batas yang tidak dilampaui masing-masing .Maka nikmat Tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan? Dari keduanya keluar mutiara dan marjan.Maka nikmat Tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan?Dan kepunyaanNya lah bahtera-bahtera yang Tinggi layarnya di lautan laksana gunung-gunung. Maka nikmat Tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan?”(QS. ArRahman: 5-25)

Yang membuat sedih Abu Bakar atas kepergian sang Nabi bukanlah karena ia tidak bersama lagi, tapi karena “ Yang aku sedihkan bukanlah kepergiannya, tetapi karena wahyu yang terhenti”...itulah energi cinta sang nabi kepada umatnya, membentuk para sahabat, menumbuhkan para sahabat menjadi “ khairu ummah”, dan melantunlah untaian kata ummati....ummati dari mulut Rosullah diakhir hayatnya.


Lalu....saat cinta itu merambah pada dunia politik, hakiki ini semakin gamang untuk didefinisikan. Maka, akan dipublikasikan dengan opini apapun kita akan faham bahwa USA menyerang Iraq bukan karena atas nama cinta kepada dunia, tetapi karena mereka mencoba menghanguskan cinta itu sendiri. Kita semua faham fakta itu, karena cinta letaknya bukan pada opini, tetapi pada ejawantah hati.

Akhirnya segempar apapun Israel mengatakan palestine sebagai markas teroris, fakta akhir pulalah yang menisbatkan bahwa palestine-lah negeri tertindas yang terampas cintanya. Maka kata yang melingkupinya bukan lagi Penyerangan rakyat palestine, bukan lagi penteroran rakyat palestine, tapi telah dengan sendirinya menjadi “perjuangan” rakyat palestine.