Kamis, 30 April 2009

Untukmu
abu layali

Ini hari terakhirku
ketika aku masih terpaku
menatap zaman
lekat dengan nafas yang separuh hilang sudah

Engkau masih disisiku...
memandang hari yang kian menampakkan jati dirinya
Menatap kita bersama cita-cita

aku tak tau...
apakah yang separuh ini masih sanggup menjagamu
padahal akan tiba itu siang
Dan sekarang aku baru bisa bergumam
Berucap saja belum

Tapi engkau begitu setia
Senyum terus terpaku tiada akhir
Menatap aku, engkau tetap disitu

tapi aku masih tak tahu..
apakah yang separuh itu sanggup denganmu
padahal akan padam ini jiwa
dan sekarang aku baru bisa bergumam
Berucap saja belum

aku harap aku mampu
Walau sekarang belum semua itu
Tapi...
kuharap engkau menunggu

Minggu, 01 Maret 2009

Ibroh

Dahulu kala ada seorang anak kecil yang suka bermain dengan pohon apelnya, tiap hari ia menaiki pohon itu, berayun dirantingnya, dan sesekali memetik buahnya, dia sangat senang sekali.....begitu juga pohon apel itu, ia mempunyai teman yang senang mengunjunginya tiap hari dan mengajaknya bermain.

Hari berganti hari, dan tahun-demi tahunpun berlalu.Tiba tiba si anak kecil itu tak pernah mengunjungi lagi pohon apel itu....dan sipohon apel itu pun terus menunggu...

Hingga setelah beberapa tahun berlalu ketika sianak kecil itu sudah beranjak dewasa...ia kembali mengujungi pohon apel itu. Si pohon apel senang melihatnya “Mari kemari main lagi bersamaku” kata pohon apel.

“ Aduh sayang sekali aku tak punya waktu”

“Kalau begitu ada yang bisa aku bantu”tanya pohon apel

“Aku ingin membeli mainan tetapi aku tak punya uang sepeserpun!!”

“ Kalo begitu aku bisa membantumu, kau petik saja semua buah apelku, lalu kau jual kepasar, dan uang yang kau dapat itu bisa kau belikan mainan yang kau suka”

Si anak kecil itupun kemudian memetik semua buah apel itu, ia terlihat senang sekali....tapi hari kemudian berlalu berganti tahun, si anak kecil itu tak pernah lagi mengunjungi pohon apel itu...dan sipohon apel itupun terus menunggu

Maka setelah beberapa tahun berlalu, anak itu kembali lagi dan sudah menjadi seorang dewasa. Kata sipohon apel “ hai...mari kesini main lagi dengan ku, sudah lama aku menantimu”

“Maaf aku tak ada waktu, aku telah menikah kini, dan aku perlu rumah”

“oh...kalo begitu kau petik saja semua rantingku, dan kau bisa buat menjadi sebuah rumah kayu dengannya”

Maka si pemuda itu senang sekali, ia petik semua ranting si pohon apel... tapi waktu berlalu dan pemuda itu kembali melupakan sipohon apel itu.

Sampai akhirnya si pemuda itu datang lagi sudah dalam kondisi menjadi seorang bapak, kata sipohon apel “ lama sekali aku menunggumu, kemarilah main lagi denganku”

“Maaf, anak ku mengajakku berlibur, aku ingin bertamasya kepantai menaiki sampan tapi aku tak punya dana sama sekali”

“ Oh tenanglah aku masih punya batang yang kuat, yang bisa kau gunakan untuk membuat perahu”

Maka waktu berlalu dan ia mulai lupa lagi pada pohon apel itu, sampai ketika waktu telah berlalu dalam hitungan windu, datanglah kembali si anak itu dalam kondisi tua.

Kata sipohon apel “ aduh senang sekali kau datang, tapi aku tak punya lagi buah untuk kau makan, tak punya ranting untuk kau ambil, adan dahan untuk kau naiki”

“Ah aku tak butuh itu...aku sudah tua, jangankan untuk berayun-ayun didahanmu, untuk memakan buahmupun aku tak sanggup”

“Kalau begitu apa yang kau inginkan”

“ Aku tak ingin apa-apa, aku sudah lelah menjalani hidupku. Aku hanya ingin beristirahat didekatmu ini menghabiskan masa senjaku”

Kata sipohon apel itu dengan senyum penuh keteduhan “ Kalo begitu kemarilah...aku masih punya akar yang kuat dan hangat untuk tempat merebahkan tubuhmu....”


Mungkin inilah gambaran seorang anak dan kedua orang tuanya (sipohon apel) bagaimana kita(sianak) ketika kecil dengan riangnya bermain , bercanda dengan orang tua kita. Dan ketika waktu berlalu dan kita tinggal jauh dari mereka, kadang kita mendatanginya hanya ketika butuh, hanya ketika punya masalah...atau sekedar rutinitas formal(Idul Fitri dan Idul Adha)....tapi perhatikanlah orang tua kita yang senantiasa menerima kita dengan penuh kasih, dengan apa adanya, dan dengan segenap apa yang ia sanggup berikan setelah lama kita tinggalkan.

Maka mengapa itu terjadi . Karena orang tua telah terbentuk format cinta dalam dirinya, telah tersibghoh ia dengan energi cinta...maka imbas yang diberikan akan berbeda dengan kondisi anaknya yang mungkin belum pernah mengorbankan harta dan jiwanya .

Sedang orang tua yang telah mengorbankan hartanya untuk mempertahankan buah hati, mengorbankan nyawanya untuk melahirkan sibuah hati......... telah tau apa itu cinta dan bagaimana mengalirkannya sehingga tabiat cinta pun mendarah disana.

Bersama Kabilah Cinta

By Abu Layali


Cinta, sebuah kata yang mungkin telah mengalami degradasi diabad kekinian ini, sebuah penyempitan kata yang membuat ummat ini kehilangan makna cinta itu sendiri.

Sejarah telah membukukan berderet-deret sejarah berbau kecintaan pada lembaran-lembaran tahunnya. Melegendalah Taj Mahal, dikenanglah Romeo-Juliet, diburulah puisi Kharil Gibran, dan membumilah kisah Laila Majnun. Tapi sekali lagi kini cinta telah kehilangan maknanya.

Ketika cinta telah tergeser maknanya ia tidak lebih dari urusan perut, dan “komponen - komponen” dibawahnya.

Apalah arti Khadijah yang sudah berusia 40 tahun bagi sang nabi SAW itu jika dibanding Aisyah yang masih belia, tapi faktanya ialah wanita yang selalu dikenang sang rasul sampai akhir hayatnya,sampai-sampai aisyah berkata “tidak ada perempuan yang lebih aku cemburui melainkan Khadijah.
Sebuah keunikan cinta dan kasih sayang, karena memang disitulah cinta itu hakikinya muncul, ia muncul ketika ada saling memberi, ia terkuak ketika ada saling membangun dan menumbuhkan, dan ia mekar ketika ada saling mengisi.Dan inilah ungkapan sang rasul kepadanya :"Khadijah beriman kepadaku ketika orang-orang ingkar, dia membenarkan aku ketika orang-orang mendustakan dan dia menolongku dengan hartanya ketika orang-orang tidak memberiku apa-apa."khadijah lah yang memberi sesuatu pada sang nabi, ia-lah yang mengawal sang muhammad ini dengan kerasulannya, kemudian institusi cinta itu melebar ke area langit sehingga jibril berkata :"Wahai Rasulullah, inilah Khadijah telah datang membawa sebuah wadah berisi kuah dan makanan atau minuman. Apabila dia datang kepadamu, sampaikan salam kepadanya dari Tuhannya dan aku, dan beritahukan kepadanya tentang sebuah rumah di syurga dari mutiara yang tiada keributan di dalamnya dan tidak ada kepayahan."

Dan pada lini lain, ketika cinta itu bersifat menumbuhkan maka sang nabi itupun telah menumbuhkan Aisyah menjadi seorang guru ilmu,pada masa kepulangan sang Nabi itu ke hadapan ilahi, Humaira yang baru berumur 19 tahun itu telah menjadi tempat rujukan fatwa para sahabat.Dan tumbuh pulalah istri istri beliau yang lain seperti bunga-bunga yang unik diantara ribuan bunga sampai-sampai mereka mengatakan “ Tiap kami merasa, kamilah yang paling disayangi rasulullah” .

Mungkin jika diabad kekinian ini muncul beribu-ribu jamaah rumah tangga yang “siap cerai”, bisa jadi karena memang tidak ada pertumbuhan disitu, tidak ada yang berkembang disitu.Ketika wajah mulai berkerut, dan lemak menumpuk tak ada skill yang terus berkembang, tak ada profesionalisme yang tumbuh, dan tak ada kepribadian yang terbentuk. Mereka tetap bertahan dengan status “suami-istri” hanya karena adanya anak yang memang secara hakiki sedang mereka tumbuh kembangkan, dan itulah penopangnya.

Sangat menarik ketika islam memperkenalkan pernikahan dengan target untuk mendapatkan “mawadah wa rahmah”. Mawadah ( keelokan fisik ) akan berperan pada rentang tahun-tahun pertama, tapi selanjutnya rahmah (skill,profesionalisme,kepribadian)-lah yang memegang kendali selajutnya. Hingga jangan heran ketika seorang suami yang ditinggal sang istri biasanya akan terkenang bukan pada kecantikannya tetapi pada kepribadiannya, begitu pula sang istri. Dan pada pusaran itulah ia merambah dunia rumah tangga.....saling menumbuhkan,....saling mengembangkan,......saling memberi...sampai pada pagu tertinggi. Maka, cinta sejatinya bukan terletak pada “ aku akan mati jika kau mati”, bukan pada “hidupku sedih tanpamu”, bukan pada “ engkaulah segalanya bagiku”, bukan itu...... karena cinta sejatinya bukan untuk memiliki ,bukan untuk merampas, bukan untuk ke-aku-an, tapi cinta adalah yang selalu membuat obyek yang kita cintai berpendar dan bersinar karena energi cinta kita.

Wanginya mekar bunga dan indahnya kompleksitas alam ini itulah penjabaran cinta sang Khaliq lewat ayat kauliyahnya.
“Matahari dan bulan (beredar) menurut perhitungan.Dan tumbuh-tumbuhan dan pohon-pohonan kedua-duanya tunduk kepada nya.Dan Allah Telah meninggikan langit dan dia meletakkan neraca (keadilan).Supaya kamu jangan melampaui batas tentang neraca itu.Dan Tegakkanlah timbangan itu dengan adil dan janganlah kamu mengurangi neraca itu.Dan Allah Telah meratakan bumi untuk makhluk(Nya).Di bumi itu ada buah-buahan dan pohon kurma yang mempunyai kelopak mayang. Dan biji-bijian yang berkulit dan bunga-bunga yang harum baunya.Maka nikmat Tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan? Dia menciptakan manusia dari tanah kering seperti tembikar, Dan dia menciptakan jin dari nyala api. Maka nikmat Tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan? Tuhan yang memelihara kedua tempat terbit matahari dan Tuhan yang memelihara kedua tempat terbenamnyaMaka nikmat Tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan;Dia membiarkan dua lautan mengalir yang keduanya Kemudian bertemu, Antara keduanya ada batas yang tidak dilampaui masing-masing .Maka nikmat Tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan? Dari keduanya keluar mutiara dan marjan.Maka nikmat Tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan?Dan kepunyaanNya lah bahtera-bahtera yang Tinggi layarnya di lautan laksana gunung-gunung. Maka nikmat Tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan?”(QS. ArRahman: 5-25)

Yang membuat sedih Abu Bakar atas kepergian sang Nabi bukanlah karena ia tidak bersama lagi, tapi karena “ Yang aku sedihkan bukanlah kepergiannya, tetapi karena wahyu yang terhenti”...itulah energi cinta sang nabi kepada umatnya, membentuk para sahabat, menumbuhkan para sahabat menjadi “ khairu ummah”, dan melantunlah untaian kata ummati....ummati dari mulut Rosullah diakhir hayatnya.


Lalu....saat cinta itu merambah pada dunia politik, hakiki ini semakin gamang untuk didefinisikan. Maka, akan dipublikasikan dengan opini apapun kita akan faham bahwa USA menyerang Iraq bukan karena atas nama cinta kepada dunia, tetapi karena mereka mencoba menghanguskan cinta itu sendiri. Kita semua faham fakta itu, karena cinta letaknya bukan pada opini, tetapi pada ejawantah hati.

Akhirnya segempar apapun Israel mengatakan palestine sebagai markas teroris, fakta akhir pulalah yang menisbatkan bahwa palestine-lah negeri tertindas yang terampas cintanya. Maka kata yang melingkupinya bukan lagi Penyerangan rakyat palestine, bukan lagi penteroran rakyat palestine, tapi telah dengan sendirinya menjadi “perjuangan” rakyat palestine.

Selasa, 10 Februari 2009

Catatan Perjalanan Sunaryo Adhiatmoko

Surat Dari Gaza “Tidak Ada Teroris di Gaza”
______________________________________
Oleh: Sunaryo Adhiatmoko (GAZA)


Ini hari ketujuh, saya berbaur dengan warga korban agresi Israel di Gaza, (2 Februari 2009). Satu hari saya di Rafah, enam hari sampai sekarang saya bertahan di Jabalia Gaza Utara.
Saya melihat Gaza masih utuh, yakni semangat juang rakyat dan cara bertahannya. Gaza masih kukuh, meski blokade Israel makin menggila.
Meski spirit warga Gaza terus membara, secara fisik Gaza porak poranda. Permukiman penduduk, sekolah, masjid, dan pusat pemerintahan hancur total. Kerusakan ter hebat dialami di Rafah, Khanyounis, Bayt Lahia, Bayt Hanun, dan Jabalia.
Tetapi roda pemerintahan berderak tak terbendung. Pemerintahan resmi Hamas, tetap menjalankan perannya dengan baik. Tanpa kantor, aparat kepolisian dan keamanan tetap beroperasi. Di Rafah misalnya, meski kantor polisi dihancurkan rudal dan bom Israel, mereka tetap berkantor di jalanan dengan absensi selembar kertas. Bahkan mereka sempat menangkap lima orang pengedar narkotika dari Mesir dan Israel.
Gaza City, ibukota Gaza, oase lain di tengah reruntuhan bangunan dan gedung di Gaza. Pusat kota Gaza ini masih utuh. Gedung-gedung yang punya konstruksi bangunan ter kokoh di Arab -mungkin - masih angkuh menatap lepas laut Mediterranean. Bank dan fasilitas publik lainnya masih berjalan baik. Kemacetan lalulintas juga pandangan hari-hari, seakan mengatakan “Kami masih utuh wahai Israel!”.


Biaya hidup di Gaza tinggi. Nilai $ US 1 sama dengan 3,8 Shekel - mata uang Israel. Transaksi hari-hari rakyat Palestina memakai mata uang Israel. Hotel dengan tarif terendah mencapai $ US 100. Pasca perang, biaya hidup di Gaza naik lebih dari 300 persen.
Setelah tanggal 5 Februari nanti, pintu perbatasan Rafah melalui Mesir akan ditutup. Saya dan orang asing lainnya, diminta Kementerian Luar Negeri Mesir, untuk keluar Gaza sebelum tanggal 5.


Ini seperti mimpi buruk. Selanjutnya, perbatasan yang akan dibuka melalui Israel di Karem Abu Salom dan El Auda. Saya membayangkan, jika pintu masuk Gaza melalui Israel, sama halnya dengan mengisolasi total warga Gaza dari dunia luar. Hati saya terus bertanya, mungkinkah suplai kebutuhan hidup melalui terowongan di Rafah mampu menghidupi 2,5 juta lebih penduduk Gaza? Pun, juga heran, bagaimana mungkin pasca gempuran yang demikian hebat, semua jenis kendaraan di Gaza masih beroperasi secara baik. Dari mana suplai bahan bakarnya? Makin memahami kehidupan Gaza rasanya rumit dan tak masuk akal.


Rasanya adil, jika akhirnya Hamas memproklamirkan kemenangannya. Karena Gaza bisa berdenyut lebih cepat dan makin kuat. Bahkan Hamas juga masih mampu melempar roket ke Israel, tiap kali Israel memancing keruh dengan melempar rudal nya ke Rafah, Khanyounis, dan Jabalia. Dalam catatan saya, Hamas hampir tak pernah melempar roket lebih dulu. Biasanya, jika Israel melempar rudal lebih dulu, Hamas baru membalasnya dengan dua sampai tiga roket. Mereka juga ingin menjelaskan, bahwa Hamas masih kokoh sebagai kekuatan militer di Gaza.
Di Gaza, saya berpetualang menjumpai para korban agresi Israel. Saya merekam cukup baik apa suara mereka. Dari anak-anak sampai orang tua. Dalam catatan saya, delapan dari sepuluh anak laki-laki di Gaza bercita-cita jadi anggota Brigadir Al-Qosam. Sisanya ingin jadi guru dan pekerja sosial. Sedangkan tujuh dari sepuluh anak perempuan di Gaza, ingin jadi dokter. Mereka ingin mengobati para mujahidin yang terluka, jika Israel menyerang tanah mereka.

Dari setiap anak yang saya ajak berbincang, mereka punya suara kejujuran yang tulus tentang perdamaian. “Kami mencintai perdamaian dengan siapa pun. Tetapi jika tanah kami dijajah dan orang tua kami dibunuh, kami akan melawan dengan maupun tanpa Hamas”, kata Fatimah Atlas (13), di reruntuhan puing bekas rumahnya, Bait Lahia. Murid kelas dua Madrasah itu, ayahnya lumpuh oleh senjata Israel. Dia terkurung tujuh hari di sekolahnya, saat Israel menyerang. Ada 10 temannya yang syahid di sekolah, saat itu terkena ledakan bom.


Untuk menghemat biaya hidup, saya tinggal di rumah-rumah penduduk. Mereka sangat cinta orang Indonesia. Di sepanjang jalan saya lewati, setiap mulut berucap, “Ahlan wa sahlan Indonesia!” . Di masjid-masjid tempat saya shalat, para jamaah selalu mengerumuni saya. Nafas rasanya sesak, karena seringnya dipeluk. Para imam masjid saling berebut ingin menjamu saya dan menginap di rumahnya.
Keluarga di Gaza hidup dalam kesahajaan. Tetapi untuk menjamu tamu, mereka rela mengorbankan makanan terbaiknya. Kadang, saya belanja roti di warung pinggir jalan, tapi karena tahu saya orang Indonesia, mereka tidak mau menerima uang saya. Bahkan saya diajak masuk rumah mereka dan dijamu makan. Ingin menolak, tapi postur tubuh mereka yang tinggi, membuat saya tak berdaya mengelak. Lengan saya yang kecil ditarik paksa masuk rumah.
Teman-teman saya di Jakarta tahu, saya tidak doyan roti. Tapi di Gaza dengan lidah dan mulut yang terus berontak, saya paksakan untuk menelan roti itu. Ironisnya, porsi yang mereka suguhkan sama dengan porsi yang mereka makan. Repot tapi mengharukan.
Tidak hanya merekam kehidupan anak-anak dan keluarga di Gaza. Saya juga dijamu Brigadier Al-Qosam, sayap militer Hamas yang kerap membuat Israel kerepotan dan stres. Suatu malam, saya diajak patroli mengunjungi markas dan tempat penjagaan mereka di perbatasan Gaza - Israel di daerah Jabaliah. Jarak ke Israel tak kurang dari 1 km.
Mereka menyambut kami ramah. Muka mereka ditutup sarung kepala hitam, hanya tampak mulut dan matanya. Setiap prajurit menenteng senjata AK 47. Beberapa di antaranya memegang roket anti tank buatan Rusia. Sebagian roket modifikasi buatan sendiri yang diberi nama Yasin. Menukil nama almarhum Syekh Ahmad Yasin yang dibunuh Israel.
Satu malam saya bersama mereka. Jalan kaki memutari perbatasan Jabaliah. Bau badan mereka harum, nafas yang mereka keluarkan tiap bercakap juga harum. Tidak saya temui, nafas prajurit al-Qosam bau jengkol. Telapak tangannya kekar dan kuat. Suaranya lembut dan santun. Saya tidak dapat mengenali siapa mereka. Tapi, beberapa di antaranya sepertinya saya tidak asing. Pernah berjumpa pada siang sebelumnya.
Saya mencoba mengingat siapa yang saya salami malam itu. Esok hari saya berjumpa anak-anak muda yang berpakaian rapi di masjid-masjid. Beberapa saya merasakan seperti sebagian dari orang yang saya jumpai semalam. Benar saja, sebagian mereka mengaku. Melihat gelagat nya, sulit menebak jika anak-anak muda yang gagah, rapi, santun, dan kalem ini adalah pejuang Al-Qosam yang garang di medan laga.
Tak lupa, mereka juga mengajak saya ke rumah para mujahidin yang luka. Mereka ada yang terluka di kepala, hancur tangan, kaki, dan tubuh yang tidak utuh. Ajaib nya, luka-luka mereka cepat sekali pulih. Menurut seorang dokter di Gaza, suhu dingin di Gaza bagian dari sebab kenapa luka-luka itu cepat sembuh. Seorang mujahidin ada yang empat kali terjun ke medan tempur, dan empat kali juga tubuhnya terluka. Tapi tidak ciut, dia ingin menjadi mujahidin sampai syahid menjemput.
Saat ini di Indonesia, banyak foto-foto calon legislatif dan calon presiden. Tapi di Gaza tak kalah banyak foto-foto terpampang di jalan-jalan dan gang-gang. Tapi bukan foto caleg. Foto-foto yang dipajang di Gaza adalah foto-foto para mujahidin yang syahid. Mereka menjadi idola dan bintang bagi masyarakat Palestina umumnya. Mereka para syahid yang dihormati, karena membela tanah Gaza secuil yang ingin direbut Israel.
Di Gaza, saya merasakan hukum al-Quran diamalkan. Ini tercermin dari tingkah laku dan kehidupan masyarakat Gaza. Masjid-masjid penuh tiap shalat lima waktu. Rasanya saya ingin tinggal lama di tanah para mujahidin ini. Tapi, saya harus kembali membawa kabar pada dunia, bahwa tidak ada teroris di Palestina. Semua warga Gaza mencintai Hamas. Ia, pemerintahan dan kekuatan militer yang syah di Palestina. Hamas memenangi pemilu secara demokratis. Dan Hamas dicintai secara total oleh rakyat. Anak-anak di Gaza dan Palestina kini makin membumi, mencintai perlawanan dan selalu mengidolakan para mujahidin yang syahid.
Ini, catatan hari ke-7 saya di Gaza. Sebelum akhirnya saya meninggalkan tanah Mujahidin itu pada 5 Februari 2009, atas permintaan Mesir. Setelah itu, pintu masuk Gaza melalui Rafah ditutup.

Sumber: http://hariansinggalang.co.id/index.php?mod=detail_berita.php&id=157

Minggu, 01 Februari 2009

Jumat, 30 Januari 2009

Tulisan Ir. Tifatul Sembiring: Lolong Istambul

Udara pagi terasa merasuk ke dalam tulang. Menyambut seluruh penumpang yang terbang jauh dari negeri Timur. Bandara Atta-Turk masih terkantuk walau matahari mulai menyinari. Sinarnya yang lembut sedikit hangat, sebab baru saja masuk musim semi. Bunga-bunga tulip aneka warna mulai memekar, ciptakan suasana asri. Teluk Marmara beriak kecil menyimpan kenangan-kenangan indah. Airnya bersih segar membiru tanpa polusi maupun sampah. Dilintasi jembatan panjang Mahmet Alfatih yang tegak dengan gagah. Bayangan sang pahlawan kini hadir, mengomando torehan emas tinta sejarah. Cicit-cicit khilafah berguguran menyebar tak tentu arah. Rambutnya dikuncir dan dicat berwarna pirang agar bangga sebagai Eropa. Pusar gadis-gadis muslimah dibiarkan menganga padahal bukan Hindi. Mereka duduk berdempetan laki-perempuan tanpa hijab, bercengkrama bagai layaknya muda-mudi di taman negeri-negeri Belanda. Persis seperti daun-daun kering diakhiri musim gugur. Warnanya coklat tua, luruh bertebaran kian kemari dan sebentar lagi akan membusuk menjadi humus.

Adakah duka dan tangisku dimengerti oleh cucu dan cicit khilafah ini. Di tengah derasnya musik rock dan aroma khamar dari gelas-gelas para wanita. Sementara perempuan di sudut kamar itu tengah asyik mengepulkan asap rokoknya. Setiap sudut kota dijejali iklan tarian perut, perangsang syahwat para turis oleh wanita yang meliuk-liukkan tubuhnya.

Masih adakah asa, bahwa khalifah akan kembali jaya. Ditengah sisa-sisa puing sejarah dan benteng kokoh yang terlihat masih berdiri tegak. Piring-piring dan mangkok-mangkok Cina tempat sayur bayam Sulthan dan bala tentaranya. Senjata-senjata perang dan baju-baju besi yang terlihat seram. Penggalan ayat-ayat terpahat di “suhuf” batu-batu yang retak. Semuanya berjejer mengabarkan bagaimana dahulu dakwah Islamiyyah telah pernah jaya walau kemudian tenggelam. Entah kini dipahami sebagai pedoman atau sekerdar pajangan. Agar devisa negara bertambah dan korupsi berlimpah. Semua berlomba menyambut tamu-tamu turis yang berambut hitam, berambut pirang bahkan berambut merah. Iklan dan kata-kata sambutan panjang disetiap kota agar terlihat lebih meriah.

Aya Sohpya diam mematung bagai kakek bisu kehilangan cangklongnya. Padahal disitu terkadung banyak cerita dan perjuangan berdarah-darah. Ia kini telah jadi museum tinggal jadi saksi sejarah. Masjid biru masih melantunkan ayat-ayat Al-Qur’an terasa mulai pusing di telinga sang cicit. Hiasan lampu di seluruh ruangan, aneka keramik dinding biru diselingi kaligrafi bagai ukiran, palingkan setiap wajah dari sang khatib yang sedang berkhubah di atas mimbar. Selesai Jum’atan masjid ini justru penuh sesak oleh turis yang tidak semuanya dari kalangan muslim. Sebab ada yang Nasrani, Yahudi dan juga kaum musrykin. Bahkan kalangan atheis pun datang sambil terheran-heran mengapa masih ada saja orang-orang percaya pada Tuhan.

Mungkinkan hujan rahmat akan diturunkan di negeri Timur. Di kampong kami, yang bernama Indonesia dimana sedikit masyur. Dengan kisah mujahiddin Islam yang pernah mengusir para penjajah hingga tesungkur. Yang tidak segan menjemput maut asalkan beroleh mulia dengan cara mati syahid. Walaupun tidak sering bom-bom hidup yang meledak di seantero kawasan Timur Tengah. Mungkinkah kejayaan Islam dapat diretas kembali. Kemegahan khalifah yang terkadang kurang difahami oleh seluruh penduduk negeri. Namun kami yakin bahwa jika kita sungguh-sungguh berjuang, pertolongan Allah pasti menyertai. Karena hanya Allah pemilik segala tentara handal, yang selalu unggul, selalu menang, selalu menentukan skenarionya.

Kenangan sejarah ini kembali menggugah saat pintu Istambul terbuka dengan senyumnya yang sumringah. Semua buku-buku yang pernah bercerita tentang masa-masa emas kejayaan Khilafah Islamiyyah seolah terpampang dalam halaman-halaman beranda Istambul. Lembar demi lembarnya terlukis jelas di taman-taman luas sekitar Blue Mosque, di Masjid Sulaiman, di istana Topkapi atau dalam rentangan dua kilometer jembatan gantung Mahmet Al-Fatih. Kisah-kisahnya bagai terpahat dan terukir dalam wujud relief-relief setiap liku kota Istambul. Terkenang kembali kemajuan-kemajuan yang pernah diraih kaum muslimin. Dibidang ilmu pengetahuan, dibidang kedokteran, dibidang budaya bahkan dibidang strategi militer.

Teringat kembali jejeran nama-nama besar seperti Muhammad Al-Fatih, Ibnu Sina, Alkhowaris, Abu Musa Jabir, Musa Ibnu Nasair, Al-Qataz, semua Sulthan mulai dari Khilafah Bani Umayyahm, Bani Abasyiyyah sampai kepada Khilafah Turki Utsmani terakhir. Yang Kemudian digerogoti oleh seorang Kemal Pasha dengan bantuan Inggris untuk menduduki tahta utama. Dan membelokkan arah jalan sejarah, sehingga paham sekuler dipaksakan kepada penduduk Turki. Semua yang berbau Arab mesti dienyahkan. Bahkan dari setiap menara masjid bahasa Turki digunakan untuk melantunkan suara azan. Semua paradigma dirubah dan sisa-sisa kejayaan Islam berupaya dilenyapkan. Karena itulah perintah dari seorang Carzon, Menteri Peperangan Inggris yang sudah jadi dipertuan.

Namun, terus terang, tetap masih ada kebanggaan dari sisa-sisa sejarah disini. Bahwa peninggalan Islam dikawasan Eropa yang bernama negeri Turki, bukti-buktinya dengan jelas seolah bercerita.

Akan tetapi struktur bangunan supra struktur Islam memang telah hancur sampai ke akar-akarnya. Tinggalah gedung-gedung Sulthan yang menyimpan kenangan bersejarah. Usah ditanya dimana syakshiyyah islamiyyah, keluarga-keluarga muslim dan masyarakat islami. Dia tinggal di lorong-lorong budaya dan disebagian orang tua yang bermantel tebal, sambil terbungkuk berjalan menuju ke masjid untuk sholat subuh. Apalagi daulah, bahkan berjilbab pun dilarang parlemen, sekalipun ia seorang muslimah. Meskipun, kakek-kakek mereka menuliskan gemilangnya sejarah Islam.

Bila suatu penduduk negeri mulai melepas diri dari pedoman Al-Qur’an dan sunnah seperti yang pernah diingatkan Nabi saw. Kala hajjatul wada’ diatas jabal rahmah, dahulu. Keberkahan, kejayaan kemuliaan akan hilang sekejap. Ibroh bagi yang masih hidup, bahwa mempertahankan wujud Islam dengan tarbiyyah Islamiyyah adalah cara yang ampuh membangun dan mempertahankan ruh-ruh Islam, ibaratnya pohon yang kekar menjulang ke langit dan akar-akarnya menghujam bumi. Wallahu’alam.