Senin, 15 Desember 2008

Pensil

Abu Layali


Manusia hidup dengan alur jalannya masing-masing. Bagi sebagian orang hidup ini seperti mendaki sebuah gunung terjal-entah kapan ia akan sampai di puncak dan memperoleh kebebasan di sana. Sebagian hidup seperti berjalan di jalan tol lancar tanpa hambatan tanpa kejutan-kejutan semua berjalan norma hingga ia berkata "nyamannya hidup ini" . Semua orang mengarungi bahtera hidupnya dengan media yang berbeda-beda. Ada yang menggunakan sampan, perahu, rakit, bahkan berenang dengan energi dari nafas yang ia miliki. Tapi apapun hidup kita, selandai apapun jalan hidup kita, securam apapun aral kita, Allah selalu memberikan hikmah di balik semua yang terjadi pada kita. Maka barang siapa yang bisa mengambil pelajaran dari apa yang terjadi, mereka itulah orang yang telah belajar dari hidup

Dan kami hamparkan bumi itu dan kami letakkan padanya gunung-gunung yang kokoh dan kami tumbuhkan padanya segala macam tanaman yang indah dipandang mata, Untuk menjadi pelajaran dan peringatan bagi tiap-tiap hamba yang kembali (mengingat Allah).(QS. Qoof :7-8)

Berkaitan dengan pelajaran. Ada beberapa hikmah yang bisa kita ambil dari sebatang pensil.


"Pelajaran pertama
, pensil mengingatkan kita bahwa ia bisa menghasilkan tulisan yang baik ketika menghendaki gerakan tangan sang pemiliknya. Maka begitulah kita, ketika kita senantiasa mengikuti apa yang Allah kehendaki, pada hakikatnya kita akan menjadi orang hebat.

Dan apa yang di sisi Allah adalah lebih baik bagi orang-orang yang berbakti “(Qs. Al Imraan :198)

"Pelajaran kedua, untuk menghasilkan tulisan yang bagus, pensil tersebut harus diraut terlebih dahulu. Rautan ini pasti akan membuat si pensil menderita. Tapi setelah proses meraut selesai, si pensil akan mendapatkan ketajamannya kembali.

Begitu pula dengan kita, berbagai ujian-cobaan dan tribulasi dalam hidup mungkin terasa menyakitkan bagi kita. Tetapi sadarkah kita justru lewat hal-hal tersebut kita menjadi lebih dewasa dan mawas. Banyak ulama besar telah lahir dari rahim cobaan dan penderitaan. Ibnu Taimiyah dari sel tempat ia dikurung telah melahirkan karya besar . Jeruji besi juga telah mendewasakan Buya Hamka di medan dakwah. Syaid Qutb pun telah menciptakan sebuah karya monumental justru ketika berada dalam tahanan. Juga sahabat-sahabat rasulullah, mereka mendapat gelar "khairu ummah" salah satunya dikarenakan kesuksesan mereka menghadapi berbagaim acam tantangan berat selama menggenggam jalan ilahiyah



"Pelajaran ketiga, pensil selalu memberikan kita kesempatan untuk mempergunakan penghapus, untuk memperbaiki kata-kata yang salah. Oleh karena itu memperbaiki kesalahan kita dalam hidup ini, bukanlah hal yang jelek. Itu bisa membantu kita untuk tetap berada pada jalan yang benar".



"Pelajaran keempat
, bagian yang paling penting dari sebuah pensil bukanlah bagian luarnya, melainkan arang yang ada di dalam sebuah pensil.

Dari sini ada pelajaran yang bisa kita ambil bahwa kadang kita tertipu oleh tampilan luar manusia tanpa melihat hatinya. Kadang kita begitu hormat kepada orang berdasi, disisi lain kita merendahkan si miskin, padahal bisa jadi hati sang manusia berdasi tidak lebih baik dari si miskin.

"Pelajaran kelima, adalah sebuah pensil selalu meninggalkan tanda/goresan. Seperti juga kita, kita harus sadar kalau apapun yang telah kita perbuat dalam hidup ini akan meninggalkan kesan. Oleh karena itu selalu hati-hatilah dan sadar terhadap semua tindakan".

Pelajaran keenam, pensil yang selalu digunakan semakin lama akan semakin pendek.

Itulah kita, ketika kita sudah keluar dari rahim sang bunda, disitulah usia bagi kita telah di setel oleh sang Khaliq. Semakin lama, jatah usia kita semakin tipis. Pensil yang telah diraut beberapa kali akan semakin bertambah pendek untuk kemudian ditinggalkan sang empunya. Tapi sang pensil tadi, dengan berkurangnya masa penggunaan dia telah mampu menghasilkan karya-karya besar.

Maka di umur yang semakin berkurang ini, apa karya-karya kita???

Minggu, 30 November 2008

Terlihat Indahkah Kita?

Abu Layali

Manusia, makhluk Allah yang mencintai keindahan. Maka, sudah menjadi kewajaran jika kemudian para hamba-hamba Allah ini berusaha semaksimal mungkin untuk tampil indah. Ada segelintir orang yang menghias dirinya dengan baju-baju mahal agar ia bisa membungkus tubuhnya sengan keindahan. Ada beberapa orang yang membeli parfum dan kosmetik hingga jutaan rupiah agar tubuhnya terlihat indah menawan. Ada pula yang membeli perhiasan termahal dan berkilauan agar penampilannya menjadi sempurna dan indah berkilau sekilau batu mutiara yang menghias tubuhnya.
Tapi ada satu hal yang perlu kita tanyakan, itukah keindahan hakiki? Itukah keindahan yang benar -benar bisa membuat manusia dan makhluk lain terpesona dengan kita?
Manusia adalah makhluk yang secara pasti akan berintraksi secara horizontal dan vertical. Interaksi horizontal maka ia secara sunatullah sebagai makhluk yang diamanahi “khalifatu fil ardh” harus berinteraksi dengan sesama makhluk Allah. Maka keindahan, kebersihan, dan kenyamanan akan berpengaruh terhadap tanggapan dari lawan interaksinya. Interaksi Vertikal, sebuah interaksi illahiyah, bagaimana seorang hamba berinteraksi dengan rabbnya, bagaimana seorang hamba menjalin kedekatan dengan Sang Khalik yang Mahaindah. Seorang muslim seharusnya bisa mengkombinasikan keindahan ini pada dirinya
Sesungguhnya Allah Ta'ala indah dan suka kepada keindahan. Allah suka melihat tanda-tanda kenikmatannya pada diri hambaNya, membenci kemelaratan dan yang berlagak melarat. (HR. Muslim)
Sesungguhnya Allah indah dan senang kepada keindahan. Bila seorang ke luar untuk menemui kawan-kawannya hendaklah merapikan dirinya. (HR. Al-Baihaqi)
Akan tetapi, bisa jadi menurut pandangan makhluk, sang hamba ini terlihat indah, tetapi dimata Allah bisa jadi hina dina. Begitu pula sebaliknya, boleh jadi manusia memandang rendah sang hamba, tetapi di mata Allah ia adalah hamba yang indah rupawan dan menawan.
Rasulullah saw, adalah satu diantara hamba-hamba Allah yang mampu mengkombinasikan keindahan baik dalam pandangan makhluk juga dalam pandangan Allah. Beliu adalah hamba Allah yang indah dipandang, murah senyum, pemberi solusi, dan membuat orang akan senang berlama-lama dengannya.
Oleh karena itu, alangkah bahagianya insan yang tidak hanya menghias tubuhnya dengan keindahan – keindahan materi seperti pakaian dan perhiasan, melainkan ia juga menghiasi dirinya dengan perhiasan hakiki yang tidak hanya membuat manusia terpesona tetapi juga para malaikat-Nya terpesona dan Allahpun cinta kepadanya.
Maka diantara keindahan yang harus kita kenakan (selain keindahan materi) pada diri kita diantaranya :
1. Ilmu
Tuntutlah ilmu, sesungguhnya menuntut ilmu adalah pendekatan diri kepada Allah Azza wajalla, dan mengajarkannya kepada orang yang tidak mengetahuinya adalah sodaqoh. Sesungguhnya ilmu pengetahuan menempatkan orangnya, dalam kedudukan terhormat dan mulia (tinggi). Ilmu pengetahuan adalah keindahan bagi ahlinya di dunia dan di akhirat. (HR. Ar-Rabii')
Berapa banyak manusia yang mungkin berkulit hitam, bertubuh biasa, bahkan berpenampilan pas-pasan tapi orang menjadikannya sebagai pelita bagi penerang jiwa. Fisiknya mungkin biasa-biasa saja, tetapi keilmuannya(kealimannya) membuat makhluk Allah terpesona dan senang berada didekatnya.
Diantara manusia ada yang merupakan qori’ Al-Qur’an dan tersohor karena keindahan suaranya, keindahan bacaannya, maka orang-orangpun berkumpul di sekitarnya. Diantara manusia ada yang alim, tersohor dengan ilmunya, dengan fatwa-fatwanya, dengan kesholehannya, kewaro’annya, maka orang-orangpun berkumpul di sekelilingnya.
Karena itu, sudah selayaknya para hamba Allah ini membiasakan diri untuk menambah kemampuan dan kapabilitas yang dimiliki.
Anas Radliyallaahu 'anhu berkata: Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wa Sallam pernah membaca doa: "(artinya = Ya Allah, manfaatkanlah untuk diriku apa yang telah Engkau ajarkan kepadaku, ajarilah aku dengan apa yang bermanfaat bagiku, dan limpahkanlah rizqi ilmu yang bermanfaat bagiku)." Riwayat Nasai dan Hakim.
Menuntut ilmu wajib atas tiap muslim (baik muslimin maupun muslimah). (HR. Ibnu Majah)
Bahkan, Allah SWT pun akan memberikan ganjaran yang luar biasa bagi abdi Allah yang mau berjihad untuk menuntut ilmu. Dan Allahpun membanggakannya melebihi seorang ahli ibadah.
Barangsiapa merintis jalan mencari ilmu maka Allah akan memudahkan baginya jalan ke surga. (HR. Muslim)
Kelebihan seorang alim (ilmuwan) terhadap seorang 'abid (ahli ibadah) ibarat bulan purnama terhadap seluruh bintang. (HR. Abu Dawud )
Dengan ilmu itu maka orang yang berada di sekeliling sang alim akan merasa nyaman dan tentram karena ikut merasa terang benderang bagai pelita yang menghilangkan kegelapan.
Dari Abi Musa Radhiallahu Anhu, katanya Nabi Shalallahu Alaihi wa sallam bersabda, "Perumpamaan petunjuk dan ilmu pengetahuan, yang oleh karena itu Allah mengutus aku untuk menyampaikanya, seperti hujan lebat jatuh ke bumi; bumi itu ada yang subur, menyerap air, menumbuhkan tumbuh-tumbuhan dan rumput-rumput yang banyak. Ada pula yang keras tidak menyerap air sehingga tergenang, maka Allah memberi manfaat dengan hal itu kepada manusia. Mereka dapat minum dan memberi minum (binatang ternak dan sebagainya), dan untuk bercocok tanam. Ada pula hujan yang jatuh kebagian lain, yaitu di atas tanah yang tidak menggenangkan air dan tidak pula menumbuhkan rumput. Begitulah perumpamaan orang yang belajar agama, yang mau memanfaatkan sesuatu yang oleh karena itu Allah mengutus aku menyampaikannya, dipelajarinya dan diajarkannya. Begitu pula perumpamaan orang yang tidak mau memikirkan dan mengambil peduli dengan petunjuk Allah, yang aku diutus untuk menyampaikannya."Abu Abdillah berkata, bahwa Ishaq berkata," Dan ada diantara bagian bumi yang digenangi air, tapi tidak menyerap." (Arti dari Hadts No 79 - Kitab Fathu Bari)
Al Qurtubi dan yang lainnya mengatakan bahwa Rasulullah ketika datang membawa ajaran agama, beliau mengumpamakannya dengan hujan yang diperlukan ketika mereka membutuhkannya. Demikianlah kondisi manusia sebelum Rasulullah diutus. Seperti hujan menghidupkan tanah yang mati, demikian pula ilmu agama dapat menghidupkan hati yang mati.
Kemudian beliau mengumpamakan orang yang mendengarkan ilmu agama dengan berbagai macam tanah yang terkena air hujan, diantara mereka adalah orang alim yang mengamalkan ilmunya dan mengajar. Orang ini seperti tanah subur yang menyerap air sehingga dapat memberi manfaat bagi dirinya, kemudian tanah tersebut dapat menumbuhan tumbuh-tumbuhan sehingga dapat memberi manfaat bagi yang lain.
Diantara mereka ada juga orang yang menghabiskan waktunya untuk menuntut ilmu namun dia tidak mengerjakan, akan tetapi dia mengejarkannya untuk orang lain, maka bagaikan tanah yang tergenangi air sehingga manusia dapat memanfaatkannya. Orang inilah yang diindikasikan dalam sabda beliau, "Allah memperindah seseorang yang mendengar perkataan-perkataanku dan dia mengerjakannya seperti yang dia dengar." Diantara mereka juga ada yang mendengar ilmu namun tidak menghafal atau menjaganya serta mengamalkannya dan tidak pula mengajarkannya kepada orang lain, maka dia seperti tanah yang tidak dapat menerima air sehingga merusak tanah yang ada di sekelilignya.
2. Akhlakul karimah
Akhlak yang mulia adalah cerminan seorang muslim, dan itulah kepribadian yang seharusnya senantiasa melekat pada diri setiap hamba Allah yang bertakwa dimanapun dan kapanpun ia berada.
Rasulullah adalah contoh pribadi yang mampu mempraktekkan akhlak islami dimanapun ia berada. Maka, wajar jika banyak kaum kafirin yang memeluk islam karena terpesona oleh keindahan akhlak beliau. Bahkan Allahpun memuji beliau dengan kemulian akhlak yang dimilikinya.
Dan sesungguhnya bagi kamu benar-benar pahala yang besar yang tidak putus-putusnya. Dan sesungguhnya kamu benar-benar berbudi pekerti yang agung. (QS. Al Qolam: 3-4)
Sesungguhnya aku diutus untuk menyempurnakan akhlak yang mulia. (HR. Al Bazzaar)
Oleh karena itu, rasulullah senantiasa menghimbau para penyeru dakwah agar mensibgah dirinya dengan akhlak yang mulia.
Dari Abu Hurairah Radliyallaahu 'anhu bahwa Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wa Sallam bersabda: "Sesungguhnya kalian tidak akan cukup memberi manusia dengan harta kalian, tetapi kalian akan cukup memberikan kepada mereka dengan wajah yang berseri dan akhlak yang baik." Riwayat Abu Ya'la. Hadits shahih menurut Hakim.
Dalam kesempatan lain, rasulullah mewasiatkan adanya pahala yang begitu melimpah bagi orang-orang yang mampu menjadikan kepribadiannya sebagai kepribadian yang karimah.
Dari Abu Darda' Radliyallaahu 'anhu bahwa Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wa Sallam bersabda: "Tidak ada suatu amal perbuatan pun dalam timbangan yang lebih baik daripada akhlak yang baik." Riwayat Abu Dawud dan Tirmidzi. Hadits shahih menurut Tirmidzi.
Oleh karena itu, sudah selayaknya kita senatiasa berlindung dari keburukan sifat dan sikap dan memohon kepada Allah agar menjaga kita dari nafsu yang menyingkirkan keluhuran akhlak islami.
Dari Quthbah Ibnu Malik Radliyallaahu 'anhu bahwa Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wa Sallam bersabda: "Ya Allah, jauhkanlah diriku dari kejelekan akhlak, perbuatan, hawa nafsu, dan penyakit." Riwayat Tirmidzi. Hadits shahih menurut Hakim dan lafadz ini menurut riwayatnya
Dua sifat tidak akan bertemu dalam diri seorang mukmin yaitu kikir (bakhil) dan akhlak yang buruk. (HR. Ahmad)
Ilmu dan akhlak karimah, sebuah perhiasan yang tak ternilai harganya. Kalaulah seluruh perhiasan yang ada di bumi ini dikenakan pada diri satu orang tidaklah akan cukup ia untuk menjadikan terlihat indah dihadapan Allah dan makhlukNya jika tidak diiringi dengan kealiman dan akhlak yang mulia. Maka, jika dakwah terasa berat karena orang menjauh dari kita dan merasa islam dijauhi oleh manusia. Maka, salah satu pertanyaan yang harus kita jawab oleh masing-masing diri kita adalah “sudahkah kita menghiasi diri dengan ilmu dan akhlak islami?”
Tidak ada kemelaratan yang lebih parah dari kebodohan dan tidak ada harta (kekayaan) yang lebih bermanfaat dari kesempurnaan akal. Tidak ada kesendirian yang lebih terisolir dari ujub (rasa angkuh) dan tidak ada tolong-menolong yang lebih kokoh dari musyawarah. Tidak ada kesempurnaan akal melebihi perencanaan (yang baik dan matang) dan tidak ada kedudukan yang lebih tinggi dari akhlak yang luhur. Tidak ada wara' yang lebih baik dari menjaga diri (memelihara harga dan kehormatan diri), dan tidak ada ibadah yang lebih mengesankan dari tafakur (berpikir), serta tidak ada iman yang lebih sempurna dari sifat malu dan sabar. (HR. Ibnu Majah dan Ath-Thabrani)

Minggu, 23 November 2008

ELEGI DUA SISI

Abu Layali

Hitam hinggap dalam diam
Tak mau bertanya dia?
karna itu bukan bahasa kegelapan
Jika cukup dengan vonis, kenapa harus ada jeda diantaranya

Tak peduli dia pada rintihan
Tak perlu dia pada tangisan
Toh ketika mati semua menjadi legam

Lentera redup diujung ruang
Sinar temaram coba berpendar
Dalam pengap yang menyekat pekat...dalam hitam

Masih ada harapan?
Toh masih ada TUHAN

Rabu, 12 November 2008

PASRAH

PASRAH
Abu Layali

Kau meninggalkan aku
Pada angkasa pekat
Tanpa cahaya, secuilpun tiada

Engkau memasungku
Pada cadas keras
Dengan kuat, geliatpun tak dapat

Engkau menguburku
Pada ruang pengap
Tanpa sekat, nafaspun tak kuat

Pada jarak tanpa batas
Engkau semakin menjauh,..
memandang keufukpun kau sudah tak tampak

Membuat ku sendiri kini engkau
Sendiri kaku, bisu, berdebu
Hingga aku berpikir....mati saja aku

Sabtu, 20 September 2008

Ramadhan, Rumah Raja’ dan Khauf Hamba Allah


Hati manusia sering tergoda oleh dunia, padahal hati ini ibarat tanah bagi setiap insan. Hati ini memerlukan perangkat-perangkat tambahan agar dia menjadi tanah yang subur menghijau menghampar segar indah dipandang. Maka, hati itu perlu keyakinan dan amal sebagai penghias sang tanah gersang. Keyakinan seseorang ibarat benihnya, kerja/amal seseorang adalah pengairan dan perawatannya, sementara hari akhirat adalah hari saat panennya. Seseorang tidak akan memanen kecuali sesuai dengan benih yang ia tanam, apakah tanaman itu padi atau semak berduri ia akan mendapat hasilnya kelak, dan subur atau tidaknya berbagai tanaman itu tergantung pada bagaimana ia mengairi dan merawat tanah miliknya.
Berkata Sahabat Ali ra tentang hal ini:
“Iman itu bukanlah angan-angan ataupun khayalan melainkan apa-apa yang menghunjam di dalam hati dan dibenarkan dalam perbuatannya.”
Bersabda Nabi SAW:
“Orang yang pandai adalah yang menjual dirinya untuk beramal untuk hari akhirat, sementara orang yang bodoh adalah orang yang mengikuti hawa nafsunya di dunia lalu berangan-angan kepada ALLAH akan mengampuninya.” (HR Tirmidzi 2459, Ibnu Majah 4260, Al-Baghawiy, Ahmad 4/124, Al-Hakim 1/57).
Agar dapat membumikan keyakinan sehingga menghujam kuat ke tanah, dan mengoptimalkan tetes-tetes amal agar dapat menyuburkan tanah diperlukan dua sikap pendukung, dialah Raja’ dan Khauf .
Raja’ adalah sikap mengharap dan menanti-nanti sesuatu yang sangat dicintai oleh si penanti.
Berfirman Allah SWT:
“Orang-orang yang beriman, dan berhijrah dan berjihad dijalan Allah, mereka inilah yang benar-benar mengharapkan rahmat Allah.” (QS. Al-Baqarah, 2: 218).
Keutamaan Raja’ yang lainnya adalah sebagaimana disebutkan dalam hadits Nabi SAW sbb:
“Seorang hamba Allah diperintahkan untuk masuk ke neraka pada hari Kiamat, maka iapun berpaling maka ditanya Allah SWT (padahal Ia Maha Mengetahui): ‘Mengapa kamu menoleh?’ Ia menjawab: ‘Saya tidak berharap seperti ini’. Allah berfirman: ‘Bagaimana harapanmu?’ Jawabnya: ‘Engkau mengampuniku’. Maka firman Allah: ‘Lepaskan dia’.”
Nabi SAW bersabda: “Berfirman Allah SWT kepada Adam as: ‘Bangunlah! Dan masukkan orang-orang yang ahli neraka’. Jawab Adam as: ‘Labbbaik, wa sa’daik, wal-khoiro fi yadaik, ya Rabb berapa yang harus dimasukkan ke neraka?’ Jawab Allah SWT: ‘Dari setiap 1000, ambil 999!’ Ketika mendengar itu maka anak-anak kecil beruban, wanita hamil melahirkan dan manusia seperti mabuk (dan wanita yang menyusui melahirkan bayinya, dan kamu lihat menusia mabuk, padahal bukan mabuk melainkan adzab Allah di hari itu sangat keras. QS. Al-Hajj, 21: 2). Maka berkatalah manusia pada Nabi SAW: ‘Ya Rasulullah! Bagaimana ini?’ Jawab Nabi SAW: ‘Dari Ya’juj wa ma’juj 998 orang dan dari kalian 1 orang’. Maka berkatalah manusia: ‘Allah Akbar!’ Maka berkatalah Nabi SAW pada para sahabat ra: ‘Demi Allah saya Raja’ bahwa kalian merupakan 1/4 dari ahli jannah! Demi Allah saya Raja’ kalian merupakan 1/3 ahli jannah! Demi Allah saya Raja’ kalian menjadi 1/2 ahli jannah!’ Maka semua orangpun bertakbir, dan Nabi SAW bersabda: ‘Keadaan kalian di hari itu seperti rambut putih di Sapi hitam atau seperti rambut hitam di Sapi putih’.” (HR Bukhari dan Muslim)
Khauf adalah rasa sakit serta bergetarnya hati karena ada sesuatu yang dibenci dihadapannya. Perumpamaannya seperti seseorang yang akan dihukum mati oleh raja, lalu raja itu telah memerintahkan algojonya dan algojo itu telah memegang pedangnya, maka ia telah merasa yakin akan kematiannya sebentar lagi, maka terasalah pedih hatinya saat itu dan bergetar karena rasa takut yang sangat, dan inilah yang disebut Khauf. Khauf merupakan perasaan takut akan apa yang akan dia peroleh kelak berupa kehinaan.
Keutamaan Khauf disebutkan dalam hadits Nabi SAW: “Berfirman Allah SWT: Demi Keagungan dan Kekuasaan-Ku tidak mungkin berkumpul dua rasa takut dalam diri hambaku dan tidak akan berkumpul dua rasa aman. Jika ia merasa aman pada-Ku di dunia maka akan aku buat takut ia di hari kiamat, dan jika ia takut pada-Ku di dunia maka akan aman ia di akhirat.” (HR Ibnu Hibban 2494)
Ramadan, disitulah tempat hamba-hamba Allah menampilkan sikap raja dan khaufnya. Pada bulan yang penuh ampunan, pada bulan yang penuh keberkahan, pada bulan yang surga dihias dan dibuka pintu–pintunya, pada bulan yang amal dilipatgandakan, seorang hamba hendaknya menampilkan dan mempersembahkan Raja’nya. Raja’ akan surganya, raja’ akan limpahan berkahnya, dan raja’ menyaksikkan Wajah Allah di yaumil akhir kelak.
Pada peraduan ramadhan ini pulalah sang hamba sudah selayaknya mengaplikasikan sifat khaufnya. Khauf akan dosa yang tidak terampuni, khauf akan puasanya yang hanya mendapatkan haus dan lapar, khauf tertutupnya keutamaan ramadhan baginya.
Tidak takutkah puasa sebulan penuh yang kita lakukan ini ternyata tidak memberi faedah sedikitpun bagi keselamatan kita didunia dan di akhirat. Sikap Khauf seharusnya selalu mengiringi hari-hari kita melalui ramadhan agung ini, sehingga hanya keiklasan dan amal terbaik yang akan senantiasa kita persembahkan kepada Allah SWT.
Para sahabat memiliki sikap khauf yang tinggi yang itu teraplikasi dalam keseharian mereka. Mereka takut akan neraka, takut akan hari pertanggungjawaban, dan takut tidak mendapat keridhaan Allah sang Khaliq. Abubakar ra sering berkata: “Seandainya saya hanyalah buah pohon yang dimakan.” Umar ra sering berkata: “Seandainya aku tidak pernah diciptakan, seandainya ibuku tidak melahirkanku.” Abu ‘Ubaidah ibnal Jarraah ra berkata: “Seandainya aku seekor kambing yang disembelih keluargaku lalu mereka memakan habis dagingku.” Berkata Imraan bin Hushain ra: “Seandainya aku menjadi debu yang tertiup angin kencang.”
Maka, raja’ dan khauf bagaikan dua sayap (janaahaan) yang dengannya terbang para muqarrabiin ke segala tempat yang terpuji. Dengan kedua sikap ini orang-orang bertakwa akan melalui hidupnya sampai bertemu Allah SWT dalam ketenangan dan hati bangga.
Ramadhan, inilah momen yang tepat bagi kita untuk mengasah sikap raja’ dan khauf kita.
Maka ketika di bulan ramadhan ini seorang hamba telah menanam benih iman yang terbaik, lalu mengairinya dengan air ketaatan. Dia airi benih keimanannya dengan tilawah, tarawih(qiyam ramadhan), menjaga mata, menjaga telinga, berinfaq dan dia berharap adanya keridhaan dari Allah Rabbul ‘alamin. Kemudian mensucikan hatinya dari berbagai akhlaq tercela, ia tekun merawat dan membersihkannya, dia buang ilalang-ilalang hasad, iri,dan ujub. Dia bakar benalu kesombongan, kikir,dan ria. kemudian ia menunggu keutamaan dari Allah tentang hasilnya sampai tiba saat kematiannya maka penantiannya yang panjang dalam harap dan cemas inilah yang dinamakan Raja’.
“Wahai hambaku yang telah melampaui batas pada dirinya sendiri, janganlah kamu putus asa akan rahmat Allah, sesungguhnya Allah mengampuni seluruh dosa-dosa.” (QS. Az-Zumar, 39: 53).
Dengan khauf yang benar dan mensibghah dirinya dengan sikap tersebut maka akan berdampak pada pucatnya wajah, tangis, gemetar, dan hasilnya kemudian adalah meninggalkan maksiat, lalu komitmen dalam ketaatan, lalu bersungguh-sungguh dalam beramal.
Pada ramadhan inilah sikap raja dan khauf itu ditumbuhkan, pada momentum bulan maghfiroh inilah sikap itu dipupuk sehingga insan-insan bertakwa tidak hanya menjadi sebuah cita-cita, akan tetapi terejawantahkan dalam diri setiap muslim.

Abu Layali

Selasa, 02 September 2008

Menakar Kadar Keimanan Kita

“Ya Allah ampunilah dosa-dosa kami dan hapuskanlah dari kami kesalahan-kesalahan kami, dan wafatkanlah kami bersama orang-orang yang berbakti.”

(QS. Ali Imran: 193)

"Ya Tuhanku berilah aku ilham untuk tetap mensyukuri nikmat Mu yang telah Engkau anugerahkan kepadaku dan kepada dua orang ibu bapakku dan untuk mengerjakan amal saleh yang Engkau ridhai; dan masukkanlah aku dengan rahmat-Mu ke dalam golongan hamba-hamba-Mu yang saleh."

(QS. An Naml : 19)

Mahasuci Allah yang telah menciptakan manusia dan membekalinya dengan hati dan menjadikannya khalifah di atas bumi ini. Mahasuci Allah yang meninggikan derajat manusia berdasarkan keimanan dan ketakwaannya, bukan karena fisik atau kekayaannya.

Keimanan bagi manusia adalah modal yang harus terus dipertahankan, karena dengan bekal keimanan tersebut manusia akan menghadap Rabb-nya dengan penuh ketenangan sebagai jamaah hamba-hambaNya.

Hai jiwa yang tenang., Kembalilah kepada Tuhanmu dengan hati yang puas lagi diridhai-Nya. Maka masuklah ke dalam jama'ah hamba-hamba-Ku, Masuklah ke dalam syurga-Ku.( QS. Al Fajr : 27-30)

Oleh karena itu, penting bagi kita untuk terus senantiasa memantau kadar keimanan kita. Bagaikan emas, manusia yang mengaku beriman memiliki tingkat keimanan yang berbeda – beda. Ada yang hanya sepuhan, ada yang 22 karat, ada yang 23 karat, dan ada yang murni 24 karat.

Dan hanya kita dan Allah lah yang tahu, seberapa murni keimanan diri kita masing-masing. Orang bisa jadi mengira kita sebagai seorang ahli ibadah, tetapi di sisi Allah belum tentu demikian. Begitu juga sebaliknya, ada orang yang menurut kita biasa-biasa saja, tetapi di sisi Allah dia termasuk hamba yang murni keimanannya.

Uwais al Qarni adalah contoh seorang tabi’in yang memiliki kadar keimanan yang tinggi, dia orang biasa yang tidak dikenal banyak orang, dia juga orang miskin yang hidup sebatangkara dengan ibunya yang sudah renta. Namun, Rasulullah SAW pernah berpesan kepada Sahabat Ali ra dan Umar bin Khatab ra "Suatu ketika, apabila kalian bertemu dengan dia (Uwais al Qarni), mintalah do'a dan istighfarnya, dia adalah penghuni langit dan bukan penghuni bumi".

Karena itu, penting bagi kita untuk senantiasa menjaga keimanan kita, jangan sampai kita mengira sebagai seorang mukmin tapi ternyata kadar keimanan kita hanya bagai setitik debu. Ada beberapa hal yang perlu kita perhatikan untuk terus menjaga kadar keimanan kita.

Menghindari Dosa – dosa kecil

Ulama mengatakan, dosa tak ubahnya seperti tiupan angin di tanah berdebu. Wajah terasa sejuk sesaat, tapi butiran nodanya mulai melekat. Tanpa terasa, tapi begitu berbekas. Kalau saja tak ada cermin, orang tak pernah mengira kalau ia sudah berubah.

Perjalanan hidup yang kita lalui memang penuh debu. Sedikit, tapi terus dan pasti; butiran-butiran debu dosa kian bertumpuk dalam diri. Masalahnya, seberapa peka hati menangkap itu. Karena boleh jadi, mata kepekaan pun telah tersumbat dalam gundukan butiran debu dosa yang mulai menggunung.

Kita memang mungkin tidak pernah berniat untuk melakukan dosa-dosa besar, tetapi serpihan dosa-dosa kecil yang perlahan-lahan dapat menutup kepekaan diri tersebut bisa menjadi bahaya laten yang mengancam masuknya cahaya Allah, sehingga berakibat melemahnya keimanan dan ketakwaan kita.

Rasulullah saw. bersabda, “Jauhilah dosa-dosa kecil, karena jika ia terkumpul pada diri seseorang, lambat laun akan menjadi biasa.”

Ibnu Mas’ud r.a. berkata, “Sesungguhnya seorang mukmin ketika melihat dosanya seakan-akan ia berada di pinggir gunung. Ia takut gunung itu akan menimpa dirinya. Dan seorang yang fajir tatkala melihat dosanya, seperti memandang seekor lalat yang hinggap di hidungnya, lalu membiarkannya terbang.” (HR. Bukhari)

Muhammad bin Idris Asy-Syafi’i yang biasa disebut Imam Syafi’i ini merasakan adanya penurunan kemampuan menghafal. Ia pun mengadukan hal itu ke seorang gurunya yang bernama Waqi’. Penuturan itu ia tulis dalam bentuk untaian kalimat yang begitu puitis.

Aku mengadukan buruknya hafalanku kepada Waqi’. Beliau memintaku untuk membersihkan diri dari segala dosa dan maksiat. Beliau pun mengajarkanku bahwa ilmu itu cahaya. Dan cahaya Allah tidak akan pernah menembus pada hati yang pendosa

Maka, seberapa kuat kita berusaha menghindari dosa-dosa kecil akan berimbas pada seberapa besar kadar keimanan kita akan tumbuh dalam jiwa. Selain itu, hendaknya lidah kita jangan pernah lelah untuk senantiasa beristighfar kepada Allah SWT .

“Ya Allah ampunilah dosa-dosa kami dan hapuskanlah dari kami kesalahan-kesalahan kami, dan wafatkanlah kami bersama orang-orang yang berbakti.” (QS. Ali Imran: 193)

Memurnikan cinta kepada Allah

Kadar keimanan akan dapat terus terjaga - bahkan meningkat- manakala di dalam hati terdapat rasa cinta yang mendalam kepada Allah dan Rasul-Nya. Dengan kecintaan yang dalam kepada Allah dan Rasul-Nya maka akan melahirkan sikap ridha yang berbuah kepada “Istildzadz at-Thaa’ah”, lezatnya ketaatan kepada Allah swt. Jika dia sudah mendapatkannya, dia akan merasa nikmat ketika tilawah, merasa tenang ketika shalat, dan merasa nyaman ketika berpuasa.

Dari Al-Abbas bin Abdil Muttalib, bahwasanya ia mendengar Rasulallah saw. bersabda, “Telah merasakan lezatnya iman seseorang yang ridha Allah sebagai Rabbnya, Islam sebagai dinnya dan Muhammad sebagai Rasulnya.” (HR. Muslim)

Lezatnya ketaatan kepada Allah ditunjukan oleh wanita Anshar dan Muhajirin, tatkala turun wahyu yang memerintahkan mereka untuk berhijab dan menutrup auratnya, mereka langsung meresponnya dengan senang hati dan lapang dada, tanpa merasa berat sedikitpun. Aisyah ra. yang menjadi saksi mata atas hal ini berkata :

“Semoga Allah merahmati wanita Anshar dan Muhajirin, tatkala turun kepada mereka ayat “hendaknya mereka mengenakan kain panjang (jilbab) sampai ke atas dada mereka,” mereka memotong kain-kain mereka, lalu mereka menjadikan kain-kain itu sebagai penutup kepalanya

Karena itulah menumbuhkan kecintaan kepada Allah dan Rasul serta menempatkannya pada posisi yang tepat menjadi sebuah keniscayaan bagi insan yang merindukan perjumpaan dengan Allah. Ketika keimanan sudah mensibghah seluruh tubuh sang hamba, maka hari - harinya dipenuhi dengan amal kebajikan, dan tingkah lakunya terjaga dari keinginan bermaksiat kepada Allah.

Dari Anas ra, dari Nabi saw. bersabda, “Tiga perkara jika kalian memilikinya, maka akan didapati manisnya iman. (Pertama) orang yang menjadikan Allah dan Rasul-Nya lebih dicintai dari selainnya. (Kedua) agar mencintai seseorang semata-mata karena Allah swt. (Ketiga), tidak senang kembali kapada kekufuran setelah diselamatkan oleh Allah swt, sebagaimana ketidak-senangannya dilempar ke dalam api neraka.” (HR Muslim)

Ibnu Rajab berkata dalam kitab Fathul Bari 1/27 : “Maka apabila sebilah hati telah mendapatkan manisnya iman, maka ia akan sensitif merasakan pahitnya kekufuran, kefasikan dan kemaksiatan, karena itulah Nabi Yusuf AS berkata : “Ya Rabb! Penjari lebih aku sukai daripada apa yang mereka serukan kepadaku” (QS. Yusuf : 33)

Senin, 09 Juni 2008

Harga Minyak, Siapa Yang Mengatur?



Jika diteliti ulang maka sumber permasalahan dari liarnya kenaikan harga minyak saat ini terjadi akibat perubahan pola pembentukan harga minyak di tingkat global. Awalnya pembentukan harga minyak berbasis murni pada supply dan demand atau berdasarkan pola tradisional. Seiring dengan waktu, kemajuan teknologi dan perkembangan di pasar keuangan maka terjadi pergeseran dimana kesepakatan harga terbentuk melalui transaksi di bursa komoditi. Harga tidak lagi ditentukan semata2 oleh besarnya penawaran dan permintaan tetapi juga telah dipengaruhi oleh berbagai faktor2 di pasar keuangan.

Dahulu yang memiliki kontrol terhadap pembentukan harga minyak adalah OPEC, namun saat ini kontrol tersebut telah beralih ke Wall Street. Peran the ICE Futures di London dan Nymex di New York menjadi dominan di dalam pembentukan harga benchmark minyak khususnya kontrak futures dari crude oil West Texas Intermediate (WTI) grade dan North Sea Brent (Brent) grade. Bursa ketiga yang turut berperan adalah the Dubai Mercantile Exchange (DME) yang sebenarnya merupakan kepanjangan tangan dari Nymex. (Catatan: Brent merupakan konsumsi pasar di Eropa dan juga Asia sedangkan WTI merupakan konsumsi US).

Sepintas perubahan pola ini tidak memiliki dampak negative kepada mekanisme pembentukan harga. Tapi faktanya perubahan pola tersebutlah yang telah memicu harga minyak bergerak liar dalam beberapa tahun terakhir. Mengapa?

Ini terkait dengan regulasi di bursa komoditi. Di dalam bursa tersebut hanya ada regulasi yang mengatur mekanisme kontrak perdagangan. Tapi perlu diketahui bahwa tidak ada regulasi yang mengatur laju kenaikan dan penurunan harga minyak tersebut alias tanpa aturan main. Bila dulu OPEC mampu mengendalikan tingkat harga melalui kebijakan produksi maka kini kendali tersebut tidak lagi dominan. Kendali harga saat ini lebih dipengaruhi pada kekuatan tarik menarik harga di bursa. Siapa kuat dialah yang menang. Tidak ada satu lembagapun yang mengatur tarik menarik harga tersebut. Bursa hanya bertanggung jawab terhadap aturan main perdagangan sekedar memastikan penjual mendapatkan uang dan pembeli mendapatkan barang yang dibeli.

Sebenarnya hal tersebut tidak akan menjadi persoalan bila bursa tersebut dikuasai oleh kekuatan retail atau dipengaruhi oleh banyak pihak. Namun kenyataannya, hanya ada empat pemain utama yang notabene mampu mengontrol harga minyak di bursa2 tersebut yaitu Goldman Sachs, Morgan Stanley, Citigroup dan JP Morgan Chase. Tingginya harga minyak saat ini tidak lepas dari spekulasi yang dilakukan oleh keempat institusi tersebut yang telah mendorong berbagai pihak seperti produsen, pemilik kilang refinery dan strorage untuk turut memanfaatkan situasi tersebut.

Beberapa bulan yang lalu banyak yang beranggapan bahwa kenaikan harga minyak terjadi seiring depresiasi USD terhadap Yen dan Euro. Namun kenyataannya setelah USD mengalami perbaikan nilai tukar, harga minyak kembali melambung bahkan lebih tinggi dari sebelumnya. Sehingga ini tidak sekedar upaya offset akibat penurunan nilai USD tapi benar2 merupakan kegiatan spekulasi dari para pemain utama yang terencana dengan baik.

Di sisi supply, memang betul terdapat berbagai persoalan yang dihadapi oleh produsen minyak seperti di Nigeria dan Venezuela. Tapi persoalan yang terjadi pada produsen minyak bukan suatu yang baru dan selalu terjadi di sepanjang masa. Sehingga concern bahwa akan terjadi kekurangan supply bukanlah hal yang krusial terlebih dengan tingkat permintaan yang cenderung stagnan. Itu sebabnya OPEC tidak merasa perlu untuk meningkatkan kapasitas produksi mereka. Indikasi lain juga terlihat dari besarnya persediaan crude oil di US yang merupakan tertinggi dalam delapan tahun terakhir yang menandakan adanya upaya penimbunan minyak.

Persoalan harga minyak memang sangat rumit dan mungkin kenaikan harga minyak tidak akan berakhir dalam waktu singkat. Hanya saja yang jadi pertanyaan, apakah ketamakan manusia sudah tanpa batas? Apakah wajar kekayaan alam yang langka, terbatas dan merupakan karunia Tuhan untuk seluruh umat manusia diatur oleh segelintir penguasa keuangan dunia? Teringat judul buku "Siapa Menabur Angin Akan Menuai Badai" mungkin itulah yang akan terjadi saat spekulasi mereka berakhir di jalan buntu.

Posted by Socrates Rudy Sirait, PhD

Kamis, 29 Mei 2008

Sisi Lain Gempa Jogja

Inilah sisi lain gempa jogja

Selasa, 27 Mei 2008

Kendali Waktu Bukan Ditangan Kita


Dan bagi masing-masing mereka derajat menurut apa yang telah mereka kerjakan dan agar Allah mencukupkan bagi mereka (balasan) pekerjaan-pekerjaan mereka sedang mereka tiada dirugikan.

(QS. Al Ahqaf :19)

Hembusan nafas ini adalah potongan-potongan waktu bagi seorang hamba. Berlalunya satu hembusan nafas, berarti berkurang pula sisa waktu yang akan kita jalani. Lalu, kemanakah larinya hembusan nafas yang selama ini kita buang? Bersama amal-amal macam apakah hembusan nafas itu menghilang ?

Maka, senantiasa mengerjakan amal kebaikan, merupakan salah satu hal terbaik yang dapat kita lakukan untuk mengiringi setiap hembusan nafas kita. Dengan amal-amal yang kita lakukan, potongan waktu yang kita jalani ini akan menjadi sebuah tabungan pahala yang terus bertambah sebagai modal pertemuan kita dengan Allah SWT.

Bagi orang-orang yang berbuat baik, ada pahala yang terbaik (surga) dan tambahannya. Dan muka mereka tidak ditutupi debu hitam dan tidak (pula) kehinaan. Mereka itulah penghuni syurga, mereka kekal di dalamnya.(QS. Yunus :26)

Hembusan nafas ini seperti tinta yang akan mengukir jalan hidup kita. Rasulullah hanya hidup selam 63 tahun, tetapi ketika orang mengkaji jalan hidup beliau seolah-olah tak pernah habis untuk membahas dan memujinya bahkan sampai akhir zaman. Tidak ada yang telah membuat usia para sahabat dan ulama seperti Abu Bakar, Umar bin Khatab, Ali bin Abu Thalib, Imam Syafii, Imam Ahmad, Shalahuddin Al Ayyubi, dan Thariq bin Ziyad seolah terus memanjang hingga akhir zaman kecuali karena amal sholeh dan semangat mereka dalam menyambut seruan Allah dan Rasul-Nya.

Mereka adalah orang-orang cerdas yang mampu mempersiapkan hidupnya untuk menghadapi kematian yang mereka sendiri tidak tahu kapan itu akan terjadi.

Rasulullah SAW bersabda “ Orang cerdas adalah yang selalu melakukan introspeksi diri dan beramal untuk menyiapkan hari setelah kematian.” (H.R. Turmudzi)

Ibnu Umar r.a. berkata, seorang laki-laki dari Anshar bertanya, “Siapakah yang paling cerdik dan mulia wahai Rasulullah?” Rasulullah saw menjawab, “ Orang yang paling banyak mengingat kematian dan paling mempersiapkan bekal untuknya. Itulah orang-orang yang paling cerdik; mereka memboyong kemuliaan dunia dan akhirat.” (H.R. Ibnu Majah).

Tidak ada orang di dunia ini yang mampu menahan dirinya dari kematian. Nabi Sulaiman yang diberi kekuasaan hingga mampu menguasai manusia, jin, serta menguasai bahasa binatang tidak dapat menolak kematian yang menghampirinya. Nabi Ibrahim sang kekasih Allah pun pasrah saat kematian menjemputnya, bahkan Nabi Muhammad saw yang sangat disegani para malaikat pun tunduk dengan sunatullah ini. Mereka adalah orang-orang yang dekat dengan Allah, tetapi bukan berarti mereka diberi waktu sesukanya untuk hidup di dunia ini. Mereka terus bekerja dengan amal-amal nyata untuk mendesain jejak – jejak waktu yang akan mereka lalui.

Penggalan waktu yang tersisa, saat ini, adalah peluang kita untuk mendesain dan mengamalkan amal-amal sholeh sebagai bekal berjumpa dengan Allah yang mungkin akan terjadi beberapa jam atau bahkan menit kedepan.

Ibnu Mas’ud ra berkata, “ Saya tidak pernah menyesal melebihi penyesalanku pada hari yang matahari tenggelam padanya dan umurku berkurang dengannya, sementara amal (kebaikan) ku tidak bertambah padanya.”

Ada beberapa cara agar sisa waktu yang akan kita lalui ini menjadi lebih bermakna :

1. Bersegera dalam beramal

Bersegera dalam beramal dan tidak menunda-nunda pekerjaan adalah salah satu sikap orang yang menghargai waktu. Dia tidak pernah berpikir mengerjakan sesuatu nanti atau esok hari. Karena waktu yang kita miliki hanyalah hari ini. Kemarin bukan lagi milik kita, ia telah berlalu dan tidak akan kembali lagi. Apa yang telah kita lakukan menjadi kenangan hari ini. Ketika masa lalu kita dipenuhi dengan amal sholeh, beruntunglah kita. Namun ketika masa lalu itu dipenuhi dengan hal yang sia-sia, maka saat ini dan pada detik ini pulalah kesempatan kita untuk bertaubat, bukan nanti atau esok hari. Karena apa yang akan terjadi nanti dan esok hari kita tak pernah tahu. Hari esok adalah sesuatu yang masih merupakan hak Allah. Terserah kepada Allah apakah akan memberinya kepada kita atau tidak.

Allah memegang jiwa (orang) ketika matinya dan (memegang) jiwa (orang) yang belum mati di waktu tidurnya; maka Dia tahanlah jiwa (orang) yang telah Dia tetapkan kematiannya dan Dia melepaskan jiwa yang lain sampai waktu yang ditetapkan. Sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat tanda- tanda kekuasaan Allah bagi kaum yang berfikir. (QS. Az Zumar :42)

Dari Ibnu Umar rodhiallahu ‘anhu berkata: Rasulullah sholallahu ‘alaihi wa sallam memegang pundakku dan bersabda, “Jadilah engkau di dunia ini seperti orang asing atau penyeberang jalan.” Ibnu Umar rodhiallahu ‘anhu berkata, “Jika kamu berada di sore hari, jangan menunggu pagi hari, dan jika engkau di pagi hari janganlah menunggu sore, manfaatkanlah masa sehat. Sebelum datang masa sakitmu dan saat hidupmu sebelum datang kematianmu.” (HR. Bukhari)

Setiap hendak tidur, Muhammad bin Wasi’ berkata kepada keluarganya, “ Saya menyerahkan kalian kepada Allah!, boleh jadi tidur in masa kematianku, sehingga aku tidak akan bangun lagi di dunia.”

2. Membuat skala prioritas

Seorang hamba hendaklah senantiasa menyadari tentang terbatasnya waktu yang ada. Boleh jadi hari ini merupakan saat-saat terakhir merasakan indahnya kehidupan didunia. Sehngga, ia tidak akan memboroskan waktu untuk hal-hal yang kurang bermanfaat, apalagi yang membawa bencana.

Oleh karena itu, memilih amal yang utama, mengerjakan hal-hal yang lebih penting dan berharga, merupakan sesuatu yang dianjurkan. Janganlah kita menjadi orang yang mudah mengikuti sesuatu yang kita sendiri tidak tahu manfaatnya buat kita.

Menggunakan waktu secara efektif dan efisien dengan beramal berdasarkan skala prioritas adalah sebuah cara menghargai waktu yang kita jalani. Hasan Al Banna berkata “ Kewajiban itu lebih banyak dari waktu yang tersedia. Karena itu bantulah orang lain untuk memanfaatkan waktunya, dan apabila Anda memiliki urusan (dunia), maka persingkatlah dalam menyelesaikannya.”

Seorang sahabat bertanya, "Ya Rasulullah, yang bagaimanakah orang yang baik itu?" Nabi Saw menjawab, "Yang panjang usianya dan baik amal perbuatannya." Dia bertanya lagi, "Dan yang bagaimana orang yang paling buruk (jahat)?" Nabi Saw menjawab, "Adalah orang yang panjang usianya dan jelek amal perbuatannya." (HR. Ath-Thabrani dan Abu Na'im)

3. Instropeksi dan memohon ampunan kepada Allah

Kehidupan di dunia ini tidak lama, hanya bagai musafir yang singgah sejenak untuk bersiap-siap melanjutkan perjalanannya lagi. Tapi pada hakikatnya, pada kehidupan yang singkat inilah akan sangat mempengaruhi kondisi kita pada kehidupan kekal diakhirat nanti. Lewat amal kita di dunia inilah penentu tempat kita apakah di surga atau neraka. Lewat perjuangan di dunia inilah kita akan selamat atau tidak dari hari peng-hisab-an di hadapan Allah SWT. Sehingga, sudah selayaknya bagi seorang hamba untuk selalu mengintrospeksi perbekalan yang selama ini sudah disiapkan sebagi bekal perjalanan ke akhirat kelak.

Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat); dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.(QS. Al Hasyr :18)

Masing-masing orang akan datang kepada Allah dengan amal perbuatan yang dikerjakannya sendiri di dunia. Keshalihan orang tua tidak bisa diandalkan anaknya dihadapan Allah kelak. Kesholehan seorang istri bukan jaminan bagi sang suami untuk selamat dari siksa neraka. Kesholehan orang-orang dekat di sekitar kita mungkin bisa kita banggakan dihadapan manusia, tetapi dihadapan Allah apakah itu bisa kita banggakan?

Dan hanya kepunyaan Allah kerajaan langit dan bumi. Dan pada hari terjadinya kebangkitan, akan rugilah pada hari itu orang-orang yang mengerjakan kebathilan. Dan (pada hari itu) kamu lihat tiap-tiap umat berlutut. Tiap-tiap umat dipanggil untuk (melihat) buku catatan amalnya. pada hari itu kamu diberi balasan terhadap apa yang Telah kamu kerjakan.(QS. Al Jaatsiyah:27-28)

Dari hasil intopeksi, akan kita sadari bahwa sebagai manusia kita tak mungkin lepas dari kesalahan, maka sudah selayaknya lidah ini tak pernah henti untuk beristighfar dan memohon ampun kepada Allah SWT.Wallahu’alam.


Abu Layali

Kamis, 27 Maret 2008

26 Maret 2008 00:00 am

26 Maret 2008 oo:oo am
Kata orang aku ulang tahun..................
SMS....Email....he...he.... alhamdulillah biar "umbrus" kayak gini ternyata masih ada yang inget juga.
Tapi kayaknya ulang tahun jadi gak berarti ya kalo ternyata selama 28 tahun ini"hidup" belum ada "hentakan-hentakan" berarti di setiap moment-nya.
Tapi yang jelas aku masih harus terus merentangkan sayap untuk terbang lebih tinggi...tinggi...dan tinggi lagi.
Makasih buat teman-teman yang udah :
  1. Jadi sumber inspirasi
  2. Ngasih support
  3. Ngasih kritik
  4. Ngasih makan...he..he...(maklum doyan makan)
  5. Ngasih doa
  6. Jadi pendengar setia.

Dalam detak jantungku......
Dalam paruh nafasku.....
Dalam selimut waktu yang membalut ku....
....
Ada satu bintang.....
Jauh nian dalam jagat tak bertepi..
Dalam gelap pekat tempat aku menatap....
......Terasa jauh untuk kurengkuh.....
Malam tanpa pesan......kalut aku tersekap kabut...
Pelan meredup beranjak memudar...
Dalam tatap makin nanar...

Kapan aku mampu menggapaimu.....?

RINDU


Dalam sebuah perjalanan...
Menyusuri pantai utara....
........
........
Kuteringat masa indah...di masa-masa kecilku....

Jadi inget penggalan nasyid "Suara Persaudaraan". Libur empat hari 20-23 Maret 2008 membuat semakin menambah hasrat buat pulang kampoeng.
Yah.... tapi apa daya ....kayaknya keinginan itu tak bisa terwujud.
Duh gimana ya kabar ibu dan bapakku......?
Temen temen sekolahku yang "oks' banget......?
Untung ada foto untuk melepas rindu......
"Pekalongan ku ......." ihik...ihik.



Rindu aku........
Pada tempat singgahku di pagi buta...

Rindu aku....
Pada aroma embun yang membelaiku sekejap lalu.....

Rindu aku....
Pada kidung yang iringi bangunku.....

Rindu aku.....
pada kokok ayam yang membawa citaku....
Rindu aku...
pada tanah merah tempat jiwa tengadah.....

Rindu aku.....
Pada hening malam berbingkai ilalang....

aku...ingin pulang.