Sabtu, 20 September 2008

Ramadhan, Rumah Raja’ dan Khauf Hamba Allah


Hati manusia sering tergoda oleh dunia, padahal hati ini ibarat tanah bagi setiap insan. Hati ini memerlukan perangkat-perangkat tambahan agar dia menjadi tanah yang subur menghijau menghampar segar indah dipandang. Maka, hati itu perlu keyakinan dan amal sebagai penghias sang tanah gersang. Keyakinan seseorang ibarat benihnya, kerja/amal seseorang adalah pengairan dan perawatannya, sementara hari akhirat adalah hari saat panennya. Seseorang tidak akan memanen kecuali sesuai dengan benih yang ia tanam, apakah tanaman itu padi atau semak berduri ia akan mendapat hasilnya kelak, dan subur atau tidaknya berbagai tanaman itu tergantung pada bagaimana ia mengairi dan merawat tanah miliknya.
Berkata Sahabat Ali ra tentang hal ini:
“Iman itu bukanlah angan-angan ataupun khayalan melainkan apa-apa yang menghunjam di dalam hati dan dibenarkan dalam perbuatannya.”
Bersabda Nabi SAW:
“Orang yang pandai adalah yang menjual dirinya untuk beramal untuk hari akhirat, sementara orang yang bodoh adalah orang yang mengikuti hawa nafsunya di dunia lalu berangan-angan kepada ALLAH akan mengampuninya.” (HR Tirmidzi 2459, Ibnu Majah 4260, Al-Baghawiy, Ahmad 4/124, Al-Hakim 1/57).
Agar dapat membumikan keyakinan sehingga menghujam kuat ke tanah, dan mengoptimalkan tetes-tetes amal agar dapat menyuburkan tanah diperlukan dua sikap pendukung, dialah Raja’ dan Khauf .
Raja’ adalah sikap mengharap dan menanti-nanti sesuatu yang sangat dicintai oleh si penanti.
Berfirman Allah SWT:
“Orang-orang yang beriman, dan berhijrah dan berjihad dijalan Allah, mereka inilah yang benar-benar mengharapkan rahmat Allah.” (QS. Al-Baqarah, 2: 218).
Keutamaan Raja’ yang lainnya adalah sebagaimana disebutkan dalam hadits Nabi SAW sbb:
“Seorang hamba Allah diperintahkan untuk masuk ke neraka pada hari Kiamat, maka iapun berpaling maka ditanya Allah SWT (padahal Ia Maha Mengetahui): ‘Mengapa kamu menoleh?’ Ia menjawab: ‘Saya tidak berharap seperti ini’. Allah berfirman: ‘Bagaimana harapanmu?’ Jawabnya: ‘Engkau mengampuniku’. Maka firman Allah: ‘Lepaskan dia’.”
Nabi SAW bersabda: “Berfirman Allah SWT kepada Adam as: ‘Bangunlah! Dan masukkan orang-orang yang ahli neraka’. Jawab Adam as: ‘Labbbaik, wa sa’daik, wal-khoiro fi yadaik, ya Rabb berapa yang harus dimasukkan ke neraka?’ Jawab Allah SWT: ‘Dari setiap 1000, ambil 999!’ Ketika mendengar itu maka anak-anak kecil beruban, wanita hamil melahirkan dan manusia seperti mabuk (dan wanita yang menyusui melahirkan bayinya, dan kamu lihat menusia mabuk, padahal bukan mabuk melainkan adzab Allah di hari itu sangat keras. QS. Al-Hajj, 21: 2). Maka berkatalah manusia pada Nabi SAW: ‘Ya Rasulullah! Bagaimana ini?’ Jawab Nabi SAW: ‘Dari Ya’juj wa ma’juj 998 orang dan dari kalian 1 orang’. Maka berkatalah manusia: ‘Allah Akbar!’ Maka berkatalah Nabi SAW pada para sahabat ra: ‘Demi Allah saya Raja’ bahwa kalian merupakan 1/4 dari ahli jannah! Demi Allah saya Raja’ kalian merupakan 1/3 ahli jannah! Demi Allah saya Raja’ kalian menjadi 1/2 ahli jannah!’ Maka semua orangpun bertakbir, dan Nabi SAW bersabda: ‘Keadaan kalian di hari itu seperti rambut putih di Sapi hitam atau seperti rambut hitam di Sapi putih’.” (HR Bukhari dan Muslim)
Khauf adalah rasa sakit serta bergetarnya hati karena ada sesuatu yang dibenci dihadapannya. Perumpamaannya seperti seseorang yang akan dihukum mati oleh raja, lalu raja itu telah memerintahkan algojonya dan algojo itu telah memegang pedangnya, maka ia telah merasa yakin akan kematiannya sebentar lagi, maka terasalah pedih hatinya saat itu dan bergetar karena rasa takut yang sangat, dan inilah yang disebut Khauf. Khauf merupakan perasaan takut akan apa yang akan dia peroleh kelak berupa kehinaan.
Keutamaan Khauf disebutkan dalam hadits Nabi SAW: “Berfirman Allah SWT: Demi Keagungan dan Kekuasaan-Ku tidak mungkin berkumpul dua rasa takut dalam diri hambaku dan tidak akan berkumpul dua rasa aman. Jika ia merasa aman pada-Ku di dunia maka akan aku buat takut ia di hari kiamat, dan jika ia takut pada-Ku di dunia maka akan aman ia di akhirat.” (HR Ibnu Hibban 2494)
Ramadan, disitulah tempat hamba-hamba Allah menampilkan sikap raja dan khaufnya. Pada bulan yang penuh ampunan, pada bulan yang penuh keberkahan, pada bulan yang surga dihias dan dibuka pintu–pintunya, pada bulan yang amal dilipatgandakan, seorang hamba hendaknya menampilkan dan mempersembahkan Raja’nya. Raja’ akan surganya, raja’ akan limpahan berkahnya, dan raja’ menyaksikkan Wajah Allah di yaumil akhir kelak.
Pada peraduan ramadhan ini pulalah sang hamba sudah selayaknya mengaplikasikan sifat khaufnya. Khauf akan dosa yang tidak terampuni, khauf akan puasanya yang hanya mendapatkan haus dan lapar, khauf tertutupnya keutamaan ramadhan baginya.
Tidak takutkah puasa sebulan penuh yang kita lakukan ini ternyata tidak memberi faedah sedikitpun bagi keselamatan kita didunia dan di akhirat. Sikap Khauf seharusnya selalu mengiringi hari-hari kita melalui ramadhan agung ini, sehingga hanya keiklasan dan amal terbaik yang akan senantiasa kita persembahkan kepada Allah SWT.
Para sahabat memiliki sikap khauf yang tinggi yang itu teraplikasi dalam keseharian mereka. Mereka takut akan neraka, takut akan hari pertanggungjawaban, dan takut tidak mendapat keridhaan Allah sang Khaliq. Abubakar ra sering berkata: “Seandainya saya hanyalah buah pohon yang dimakan.” Umar ra sering berkata: “Seandainya aku tidak pernah diciptakan, seandainya ibuku tidak melahirkanku.” Abu ‘Ubaidah ibnal Jarraah ra berkata: “Seandainya aku seekor kambing yang disembelih keluargaku lalu mereka memakan habis dagingku.” Berkata Imraan bin Hushain ra: “Seandainya aku menjadi debu yang tertiup angin kencang.”
Maka, raja’ dan khauf bagaikan dua sayap (janaahaan) yang dengannya terbang para muqarrabiin ke segala tempat yang terpuji. Dengan kedua sikap ini orang-orang bertakwa akan melalui hidupnya sampai bertemu Allah SWT dalam ketenangan dan hati bangga.
Ramadhan, inilah momen yang tepat bagi kita untuk mengasah sikap raja’ dan khauf kita.
Maka ketika di bulan ramadhan ini seorang hamba telah menanam benih iman yang terbaik, lalu mengairinya dengan air ketaatan. Dia airi benih keimanannya dengan tilawah, tarawih(qiyam ramadhan), menjaga mata, menjaga telinga, berinfaq dan dia berharap adanya keridhaan dari Allah Rabbul ‘alamin. Kemudian mensucikan hatinya dari berbagai akhlaq tercela, ia tekun merawat dan membersihkannya, dia buang ilalang-ilalang hasad, iri,dan ujub. Dia bakar benalu kesombongan, kikir,dan ria. kemudian ia menunggu keutamaan dari Allah tentang hasilnya sampai tiba saat kematiannya maka penantiannya yang panjang dalam harap dan cemas inilah yang dinamakan Raja’.
“Wahai hambaku yang telah melampaui batas pada dirinya sendiri, janganlah kamu putus asa akan rahmat Allah, sesungguhnya Allah mengampuni seluruh dosa-dosa.” (QS. Az-Zumar, 39: 53).
Dengan khauf yang benar dan mensibghah dirinya dengan sikap tersebut maka akan berdampak pada pucatnya wajah, tangis, gemetar, dan hasilnya kemudian adalah meninggalkan maksiat, lalu komitmen dalam ketaatan, lalu bersungguh-sungguh dalam beramal.
Pada ramadhan inilah sikap raja dan khauf itu ditumbuhkan, pada momentum bulan maghfiroh inilah sikap itu dipupuk sehingga insan-insan bertakwa tidak hanya menjadi sebuah cita-cita, akan tetapi terejawantahkan dalam diri setiap muslim.

Abu Layali

Selasa, 02 September 2008

Menakar Kadar Keimanan Kita

“Ya Allah ampunilah dosa-dosa kami dan hapuskanlah dari kami kesalahan-kesalahan kami, dan wafatkanlah kami bersama orang-orang yang berbakti.”

(QS. Ali Imran: 193)

"Ya Tuhanku berilah aku ilham untuk tetap mensyukuri nikmat Mu yang telah Engkau anugerahkan kepadaku dan kepada dua orang ibu bapakku dan untuk mengerjakan amal saleh yang Engkau ridhai; dan masukkanlah aku dengan rahmat-Mu ke dalam golongan hamba-hamba-Mu yang saleh."

(QS. An Naml : 19)

Mahasuci Allah yang telah menciptakan manusia dan membekalinya dengan hati dan menjadikannya khalifah di atas bumi ini. Mahasuci Allah yang meninggikan derajat manusia berdasarkan keimanan dan ketakwaannya, bukan karena fisik atau kekayaannya.

Keimanan bagi manusia adalah modal yang harus terus dipertahankan, karena dengan bekal keimanan tersebut manusia akan menghadap Rabb-nya dengan penuh ketenangan sebagai jamaah hamba-hambaNya.

Hai jiwa yang tenang., Kembalilah kepada Tuhanmu dengan hati yang puas lagi diridhai-Nya. Maka masuklah ke dalam jama'ah hamba-hamba-Ku, Masuklah ke dalam syurga-Ku.( QS. Al Fajr : 27-30)

Oleh karena itu, penting bagi kita untuk terus senantiasa memantau kadar keimanan kita. Bagaikan emas, manusia yang mengaku beriman memiliki tingkat keimanan yang berbeda – beda. Ada yang hanya sepuhan, ada yang 22 karat, ada yang 23 karat, dan ada yang murni 24 karat.

Dan hanya kita dan Allah lah yang tahu, seberapa murni keimanan diri kita masing-masing. Orang bisa jadi mengira kita sebagai seorang ahli ibadah, tetapi di sisi Allah belum tentu demikian. Begitu juga sebaliknya, ada orang yang menurut kita biasa-biasa saja, tetapi di sisi Allah dia termasuk hamba yang murni keimanannya.

Uwais al Qarni adalah contoh seorang tabi’in yang memiliki kadar keimanan yang tinggi, dia orang biasa yang tidak dikenal banyak orang, dia juga orang miskin yang hidup sebatangkara dengan ibunya yang sudah renta. Namun, Rasulullah SAW pernah berpesan kepada Sahabat Ali ra dan Umar bin Khatab ra "Suatu ketika, apabila kalian bertemu dengan dia (Uwais al Qarni), mintalah do'a dan istighfarnya, dia adalah penghuni langit dan bukan penghuni bumi".

Karena itu, penting bagi kita untuk senantiasa menjaga keimanan kita, jangan sampai kita mengira sebagai seorang mukmin tapi ternyata kadar keimanan kita hanya bagai setitik debu. Ada beberapa hal yang perlu kita perhatikan untuk terus menjaga kadar keimanan kita.

Menghindari Dosa – dosa kecil

Ulama mengatakan, dosa tak ubahnya seperti tiupan angin di tanah berdebu. Wajah terasa sejuk sesaat, tapi butiran nodanya mulai melekat. Tanpa terasa, tapi begitu berbekas. Kalau saja tak ada cermin, orang tak pernah mengira kalau ia sudah berubah.

Perjalanan hidup yang kita lalui memang penuh debu. Sedikit, tapi terus dan pasti; butiran-butiran debu dosa kian bertumpuk dalam diri. Masalahnya, seberapa peka hati menangkap itu. Karena boleh jadi, mata kepekaan pun telah tersumbat dalam gundukan butiran debu dosa yang mulai menggunung.

Kita memang mungkin tidak pernah berniat untuk melakukan dosa-dosa besar, tetapi serpihan dosa-dosa kecil yang perlahan-lahan dapat menutup kepekaan diri tersebut bisa menjadi bahaya laten yang mengancam masuknya cahaya Allah, sehingga berakibat melemahnya keimanan dan ketakwaan kita.

Rasulullah saw. bersabda, “Jauhilah dosa-dosa kecil, karena jika ia terkumpul pada diri seseorang, lambat laun akan menjadi biasa.”

Ibnu Mas’ud r.a. berkata, “Sesungguhnya seorang mukmin ketika melihat dosanya seakan-akan ia berada di pinggir gunung. Ia takut gunung itu akan menimpa dirinya. Dan seorang yang fajir tatkala melihat dosanya, seperti memandang seekor lalat yang hinggap di hidungnya, lalu membiarkannya terbang.” (HR. Bukhari)

Muhammad bin Idris Asy-Syafi’i yang biasa disebut Imam Syafi’i ini merasakan adanya penurunan kemampuan menghafal. Ia pun mengadukan hal itu ke seorang gurunya yang bernama Waqi’. Penuturan itu ia tulis dalam bentuk untaian kalimat yang begitu puitis.

Aku mengadukan buruknya hafalanku kepada Waqi’. Beliau memintaku untuk membersihkan diri dari segala dosa dan maksiat. Beliau pun mengajarkanku bahwa ilmu itu cahaya. Dan cahaya Allah tidak akan pernah menembus pada hati yang pendosa

Maka, seberapa kuat kita berusaha menghindari dosa-dosa kecil akan berimbas pada seberapa besar kadar keimanan kita akan tumbuh dalam jiwa. Selain itu, hendaknya lidah kita jangan pernah lelah untuk senantiasa beristighfar kepada Allah SWT .

“Ya Allah ampunilah dosa-dosa kami dan hapuskanlah dari kami kesalahan-kesalahan kami, dan wafatkanlah kami bersama orang-orang yang berbakti.” (QS. Ali Imran: 193)

Memurnikan cinta kepada Allah

Kadar keimanan akan dapat terus terjaga - bahkan meningkat- manakala di dalam hati terdapat rasa cinta yang mendalam kepada Allah dan Rasul-Nya. Dengan kecintaan yang dalam kepada Allah dan Rasul-Nya maka akan melahirkan sikap ridha yang berbuah kepada “Istildzadz at-Thaa’ah”, lezatnya ketaatan kepada Allah swt. Jika dia sudah mendapatkannya, dia akan merasa nikmat ketika tilawah, merasa tenang ketika shalat, dan merasa nyaman ketika berpuasa.

Dari Al-Abbas bin Abdil Muttalib, bahwasanya ia mendengar Rasulallah saw. bersabda, “Telah merasakan lezatnya iman seseorang yang ridha Allah sebagai Rabbnya, Islam sebagai dinnya dan Muhammad sebagai Rasulnya.” (HR. Muslim)

Lezatnya ketaatan kepada Allah ditunjukan oleh wanita Anshar dan Muhajirin, tatkala turun wahyu yang memerintahkan mereka untuk berhijab dan menutrup auratnya, mereka langsung meresponnya dengan senang hati dan lapang dada, tanpa merasa berat sedikitpun. Aisyah ra. yang menjadi saksi mata atas hal ini berkata :

“Semoga Allah merahmati wanita Anshar dan Muhajirin, tatkala turun kepada mereka ayat “hendaknya mereka mengenakan kain panjang (jilbab) sampai ke atas dada mereka,” mereka memotong kain-kain mereka, lalu mereka menjadikan kain-kain itu sebagai penutup kepalanya

Karena itulah menumbuhkan kecintaan kepada Allah dan Rasul serta menempatkannya pada posisi yang tepat menjadi sebuah keniscayaan bagi insan yang merindukan perjumpaan dengan Allah. Ketika keimanan sudah mensibghah seluruh tubuh sang hamba, maka hari - harinya dipenuhi dengan amal kebajikan, dan tingkah lakunya terjaga dari keinginan bermaksiat kepada Allah.

Dari Anas ra, dari Nabi saw. bersabda, “Tiga perkara jika kalian memilikinya, maka akan didapati manisnya iman. (Pertama) orang yang menjadikan Allah dan Rasul-Nya lebih dicintai dari selainnya. (Kedua) agar mencintai seseorang semata-mata karena Allah swt. (Ketiga), tidak senang kembali kapada kekufuran setelah diselamatkan oleh Allah swt, sebagaimana ketidak-senangannya dilempar ke dalam api neraka.” (HR Muslim)

Ibnu Rajab berkata dalam kitab Fathul Bari 1/27 : “Maka apabila sebilah hati telah mendapatkan manisnya iman, maka ia akan sensitif merasakan pahitnya kekufuran, kefasikan dan kemaksiatan, karena itulah Nabi Yusuf AS berkata : “Ya Rabb! Penjari lebih aku sukai daripada apa yang mereka serukan kepadaku” (QS. Yusuf : 33)