Senin, 15 Desember 2008

Pensil

Abu Layali


Manusia hidup dengan alur jalannya masing-masing. Bagi sebagian orang hidup ini seperti mendaki sebuah gunung terjal-entah kapan ia akan sampai di puncak dan memperoleh kebebasan di sana. Sebagian hidup seperti berjalan di jalan tol lancar tanpa hambatan tanpa kejutan-kejutan semua berjalan norma hingga ia berkata "nyamannya hidup ini" . Semua orang mengarungi bahtera hidupnya dengan media yang berbeda-beda. Ada yang menggunakan sampan, perahu, rakit, bahkan berenang dengan energi dari nafas yang ia miliki. Tapi apapun hidup kita, selandai apapun jalan hidup kita, securam apapun aral kita, Allah selalu memberikan hikmah di balik semua yang terjadi pada kita. Maka barang siapa yang bisa mengambil pelajaran dari apa yang terjadi, mereka itulah orang yang telah belajar dari hidup

Dan kami hamparkan bumi itu dan kami letakkan padanya gunung-gunung yang kokoh dan kami tumbuhkan padanya segala macam tanaman yang indah dipandang mata, Untuk menjadi pelajaran dan peringatan bagi tiap-tiap hamba yang kembali (mengingat Allah).(QS. Qoof :7-8)

Berkaitan dengan pelajaran. Ada beberapa hikmah yang bisa kita ambil dari sebatang pensil.


"Pelajaran pertama
, pensil mengingatkan kita bahwa ia bisa menghasilkan tulisan yang baik ketika menghendaki gerakan tangan sang pemiliknya. Maka begitulah kita, ketika kita senantiasa mengikuti apa yang Allah kehendaki, pada hakikatnya kita akan menjadi orang hebat.

Dan apa yang di sisi Allah adalah lebih baik bagi orang-orang yang berbakti “(Qs. Al Imraan :198)

"Pelajaran kedua, untuk menghasilkan tulisan yang bagus, pensil tersebut harus diraut terlebih dahulu. Rautan ini pasti akan membuat si pensil menderita. Tapi setelah proses meraut selesai, si pensil akan mendapatkan ketajamannya kembali.

Begitu pula dengan kita, berbagai ujian-cobaan dan tribulasi dalam hidup mungkin terasa menyakitkan bagi kita. Tetapi sadarkah kita justru lewat hal-hal tersebut kita menjadi lebih dewasa dan mawas. Banyak ulama besar telah lahir dari rahim cobaan dan penderitaan. Ibnu Taimiyah dari sel tempat ia dikurung telah melahirkan karya besar . Jeruji besi juga telah mendewasakan Buya Hamka di medan dakwah. Syaid Qutb pun telah menciptakan sebuah karya monumental justru ketika berada dalam tahanan. Juga sahabat-sahabat rasulullah, mereka mendapat gelar "khairu ummah" salah satunya dikarenakan kesuksesan mereka menghadapi berbagaim acam tantangan berat selama menggenggam jalan ilahiyah



"Pelajaran ketiga, pensil selalu memberikan kita kesempatan untuk mempergunakan penghapus, untuk memperbaiki kata-kata yang salah. Oleh karena itu memperbaiki kesalahan kita dalam hidup ini, bukanlah hal yang jelek. Itu bisa membantu kita untuk tetap berada pada jalan yang benar".



"Pelajaran keempat
, bagian yang paling penting dari sebuah pensil bukanlah bagian luarnya, melainkan arang yang ada di dalam sebuah pensil.

Dari sini ada pelajaran yang bisa kita ambil bahwa kadang kita tertipu oleh tampilan luar manusia tanpa melihat hatinya. Kadang kita begitu hormat kepada orang berdasi, disisi lain kita merendahkan si miskin, padahal bisa jadi hati sang manusia berdasi tidak lebih baik dari si miskin.

"Pelajaran kelima, adalah sebuah pensil selalu meninggalkan tanda/goresan. Seperti juga kita, kita harus sadar kalau apapun yang telah kita perbuat dalam hidup ini akan meninggalkan kesan. Oleh karena itu selalu hati-hatilah dan sadar terhadap semua tindakan".

Pelajaran keenam, pensil yang selalu digunakan semakin lama akan semakin pendek.

Itulah kita, ketika kita sudah keluar dari rahim sang bunda, disitulah usia bagi kita telah di setel oleh sang Khaliq. Semakin lama, jatah usia kita semakin tipis. Pensil yang telah diraut beberapa kali akan semakin bertambah pendek untuk kemudian ditinggalkan sang empunya. Tapi sang pensil tadi, dengan berkurangnya masa penggunaan dia telah mampu menghasilkan karya-karya besar.

Maka di umur yang semakin berkurang ini, apa karya-karya kita???