Dahulu yang memiliki kontrol terhadap pembentukan harga minyak adalah OPEC, namun saat ini kontrol tersebut telah beralih ke Wall Street. Peran the ICE Futures di London dan Nymex di New York menjadi dominan di dalam pembentukan harga benchmark minyak khususnya kontrak futures dari crude oil West Texas Intermediate (WTI) grade dan North Sea Brent (Brent) grade. Bursa ketiga yang turut berperan adalah the Dubai Mercantile Exchange (DME) yang sebenarnya merupakan kepanjangan tangan dari Nymex. (Catatan: Brent merupakan konsumsi pasar di Eropa dan juga Asia sedangkan WTI merupakan konsumsi US).
Sepintas perubahan pola ini tidak memiliki dampak negative kepada mekanisme pembentukan harga. Tapi faktanya perubahan pola tersebutlah yang telah memicu harga minyak bergerak liar dalam beberapa tahun terakhir. Mengapa?
Ini terkait dengan regulasi di bursa komoditi. Di dalam bursa tersebut hanya ada regulasi yang mengatur mekanisme kontrak perdagangan. Tapi perlu diketahui bahwa tidak ada regulasi yang mengatur laju kenaikan dan penurunan harga minyak tersebut alias tanpa aturan main. Bila dulu OPEC mampu mengendalikan tingkat harga melalui kebijakan produksi maka kini kendali tersebut tidak lagi dominan. Kendali harga saat ini lebih dipengaruhi pada kekuatan tarik menarik harga di bursa. Siapa kuat dialah yang menang. Tidak ada satu lembagapun yang mengatur tarik menarik harga tersebut. Bursa hanya bertanggung jawab terhadap aturan main perdagangan sekedar memastikan penjual mendapatkan uang dan pembeli mendapatkan barang yang dibeli.
Sebenarnya hal tersebut tidak akan menjadi persoalan bila bursa tersebut dikuasai oleh kekuatan retail atau dipengaruhi oleh banyak pihak. Namun kenyataannya, hanya ada empat pemain utama yang notabene mampu mengontrol harga minyak di bursa2 tersebut yaitu Goldman Sachs, Morgan Stanley, Citigroup dan JP Morgan Chase. Tingginya harga minyak saat ini tidak lepas dari spekulasi yang dilakukan oleh keempat institusi tersebut yang telah mendorong berbagai pihak seperti produsen, pemilik kilang refinery dan strorage untuk turut memanfaatkan situasi tersebut.
Beberapa bulan yang lalu banyak yang beranggapan bahwa kenaikan harga minyak terjadi seiring depresiasi USD terhadap Yen dan Euro. Namun kenyataannya setelah USD mengalami perbaikan nilai tukar, harga minyak kembali melambung bahkan lebih tinggi dari sebelumnya. Sehingga ini tidak sekedar upaya offset akibat penurunan nilai USD tapi benar2 merupakan kegiatan spekulasi dari para pemain utama yang terencana dengan baik.
Di sisi supply, memang betul terdapat berbagai persoalan yang dihadapi oleh produsen minyak seperti di Nigeria dan Venezuela. Tapi persoalan yang terjadi pada produsen minyak bukan suatu yang baru dan selalu terjadi di sepanjang masa. Sehingga concern bahwa akan terjadi kekurangan supply bukanlah hal yang krusial terlebih dengan tingkat permintaan yang cenderung stagnan. Itu sebabnya OPEC tidak merasa perlu untuk meningkatkan kapasitas produksi mereka. Indikasi lain juga terlihat dari besarnya persediaan crude oil di US yang merupakan tertinggi dalam delapan tahun terakhir yang menandakan adanya upaya penimbunan minyak.
Persoalan harga minyak memang sangat rumit dan mungkin kenaikan harga minyak tidak akan berakhir dalam waktu singkat. Hanya saja yang jadi pertanyaan, apakah ketamakan manusia sudah tanpa batas? Apakah wajar kekayaan alam yang langka, terbatas dan merupakan karunia Tuhan untuk seluruh umat manusia diatur oleh segelintir penguasa keuangan dunia? Teringat judul buku "Siapa Menabur Angin Akan Menuai Badai" mungkin itulah yang akan terjadi saat spekulasi mereka berakhir di jalan buntu.
Posted by Socrates Rudy Sirait, PhD
