Selasa, 02 September 2008

Menakar Kadar Keimanan Kita

“Ya Allah ampunilah dosa-dosa kami dan hapuskanlah dari kami kesalahan-kesalahan kami, dan wafatkanlah kami bersama orang-orang yang berbakti.”

(QS. Ali Imran: 193)

"Ya Tuhanku berilah aku ilham untuk tetap mensyukuri nikmat Mu yang telah Engkau anugerahkan kepadaku dan kepada dua orang ibu bapakku dan untuk mengerjakan amal saleh yang Engkau ridhai; dan masukkanlah aku dengan rahmat-Mu ke dalam golongan hamba-hamba-Mu yang saleh."

(QS. An Naml : 19)

Mahasuci Allah yang telah menciptakan manusia dan membekalinya dengan hati dan menjadikannya khalifah di atas bumi ini. Mahasuci Allah yang meninggikan derajat manusia berdasarkan keimanan dan ketakwaannya, bukan karena fisik atau kekayaannya.

Keimanan bagi manusia adalah modal yang harus terus dipertahankan, karena dengan bekal keimanan tersebut manusia akan menghadap Rabb-nya dengan penuh ketenangan sebagai jamaah hamba-hambaNya.

Hai jiwa yang tenang., Kembalilah kepada Tuhanmu dengan hati yang puas lagi diridhai-Nya. Maka masuklah ke dalam jama'ah hamba-hamba-Ku, Masuklah ke dalam syurga-Ku.( QS. Al Fajr : 27-30)

Oleh karena itu, penting bagi kita untuk terus senantiasa memantau kadar keimanan kita. Bagaikan emas, manusia yang mengaku beriman memiliki tingkat keimanan yang berbeda – beda. Ada yang hanya sepuhan, ada yang 22 karat, ada yang 23 karat, dan ada yang murni 24 karat.

Dan hanya kita dan Allah lah yang tahu, seberapa murni keimanan diri kita masing-masing. Orang bisa jadi mengira kita sebagai seorang ahli ibadah, tetapi di sisi Allah belum tentu demikian. Begitu juga sebaliknya, ada orang yang menurut kita biasa-biasa saja, tetapi di sisi Allah dia termasuk hamba yang murni keimanannya.

Uwais al Qarni adalah contoh seorang tabi’in yang memiliki kadar keimanan yang tinggi, dia orang biasa yang tidak dikenal banyak orang, dia juga orang miskin yang hidup sebatangkara dengan ibunya yang sudah renta. Namun, Rasulullah SAW pernah berpesan kepada Sahabat Ali ra dan Umar bin Khatab ra "Suatu ketika, apabila kalian bertemu dengan dia (Uwais al Qarni), mintalah do'a dan istighfarnya, dia adalah penghuni langit dan bukan penghuni bumi".

Karena itu, penting bagi kita untuk senantiasa menjaga keimanan kita, jangan sampai kita mengira sebagai seorang mukmin tapi ternyata kadar keimanan kita hanya bagai setitik debu. Ada beberapa hal yang perlu kita perhatikan untuk terus menjaga kadar keimanan kita.

Menghindari Dosa – dosa kecil

Ulama mengatakan, dosa tak ubahnya seperti tiupan angin di tanah berdebu. Wajah terasa sejuk sesaat, tapi butiran nodanya mulai melekat. Tanpa terasa, tapi begitu berbekas. Kalau saja tak ada cermin, orang tak pernah mengira kalau ia sudah berubah.

Perjalanan hidup yang kita lalui memang penuh debu. Sedikit, tapi terus dan pasti; butiran-butiran debu dosa kian bertumpuk dalam diri. Masalahnya, seberapa peka hati menangkap itu. Karena boleh jadi, mata kepekaan pun telah tersumbat dalam gundukan butiran debu dosa yang mulai menggunung.

Kita memang mungkin tidak pernah berniat untuk melakukan dosa-dosa besar, tetapi serpihan dosa-dosa kecil yang perlahan-lahan dapat menutup kepekaan diri tersebut bisa menjadi bahaya laten yang mengancam masuknya cahaya Allah, sehingga berakibat melemahnya keimanan dan ketakwaan kita.

Rasulullah saw. bersabda, “Jauhilah dosa-dosa kecil, karena jika ia terkumpul pada diri seseorang, lambat laun akan menjadi biasa.”

Ibnu Mas’ud r.a. berkata, “Sesungguhnya seorang mukmin ketika melihat dosanya seakan-akan ia berada di pinggir gunung. Ia takut gunung itu akan menimpa dirinya. Dan seorang yang fajir tatkala melihat dosanya, seperti memandang seekor lalat yang hinggap di hidungnya, lalu membiarkannya terbang.” (HR. Bukhari)

Muhammad bin Idris Asy-Syafi’i yang biasa disebut Imam Syafi’i ini merasakan adanya penurunan kemampuan menghafal. Ia pun mengadukan hal itu ke seorang gurunya yang bernama Waqi’. Penuturan itu ia tulis dalam bentuk untaian kalimat yang begitu puitis.

Aku mengadukan buruknya hafalanku kepada Waqi’. Beliau memintaku untuk membersihkan diri dari segala dosa dan maksiat. Beliau pun mengajarkanku bahwa ilmu itu cahaya. Dan cahaya Allah tidak akan pernah menembus pada hati yang pendosa

Maka, seberapa kuat kita berusaha menghindari dosa-dosa kecil akan berimbas pada seberapa besar kadar keimanan kita akan tumbuh dalam jiwa. Selain itu, hendaknya lidah kita jangan pernah lelah untuk senantiasa beristighfar kepada Allah SWT .

“Ya Allah ampunilah dosa-dosa kami dan hapuskanlah dari kami kesalahan-kesalahan kami, dan wafatkanlah kami bersama orang-orang yang berbakti.” (QS. Ali Imran: 193)

Memurnikan cinta kepada Allah

Kadar keimanan akan dapat terus terjaga - bahkan meningkat- manakala di dalam hati terdapat rasa cinta yang mendalam kepada Allah dan Rasul-Nya. Dengan kecintaan yang dalam kepada Allah dan Rasul-Nya maka akan melahirkan sikap ridha yang berbuah kepada “Istildzadz at-Thaa’ah”, lezatnya ketaatan kepada Allah swt. Jika dia sudah mendapatkannya, dia akan merasa nikmat ketika tilawah, merasa tenang ketika shalat, dan merasa nyaman ketika berpuasa.

Dari Al-Abbas bin Abdil Muttalib, bahwasanya ia mendengar Rasulallah saw. bersabda, “Telah merasakan lezatnya iman seseorang yang ridha Allah sebagai Rabbnya, Islam sebagai dinnya dan Muhammad sebagai Rasulnya.” (HR. Muslim)

Lezatnya ketaatan kepada Allah ditunjukan oleh wanita Anshar dan Muhajirin, tatkala turun wahyu yang memerintahkan mereka untuk berhijab dan menutrup auratnya, mereka langsung meresponnya dengan senang hati dan lapang dada, tanpa merasa berat sedikitpun. Aisyah ra. yang menjadi saksi mata atas hal ini berkata :

“Semoga Allah merahmati wanita Anshar dan Muhajirin, tatkala turun kepada mereka ayat “hendaknya mereka mengenakan kain panjang (jilbab) sampai ke atas dada mereka,” mereka memotong kain-kain mereka, lalu mereka menjadikan kain-kain itu sebagai penutup kepalanya

Karena itulah menumbuhkan kecintaan kepada Allah dan Rasul serta menempatkannya pada posisi yang tepat menjadi sebuah keniscayaan bagi insan yang merindukan perjumpaan dengan Allah. Ketika keimanan sudah mensibghah seluruh tubuh sang hamba, maka hari - harinya dipenuhi dengan amal kebajikan, dan tingkah lakunya terjaga dari keinginan bermaksiat kepada Allah.

Dari Anas ra, dari Nabi saw. bersabda, “Tiga perkara jika kalian memilikinya, maka akan didapati manisnya iman. (Pertama) orang yang menjadikan Allah dan Rasul-Nya lebih dicintai dari selainnya. (Kedua) agar mencintai seseorang semata-mata karena Allah swt. (Ketiga), tidak senang kembali kapada kekufuran setelah diselamatkan oleh Allah swt, sebagaimana ketidak-senangannya dilempar ke dalam api neraka.” (HR Muslim)

Ibnu Rajab berkata dalam kitab Fathul Bari 1/27 : “Maka apabila sebilah hati telah mendapatkan manisnya iman, maka ia akan sensitif merasakan pahitnya kekufuran, kefasikan dan kemaksiatan, karena itulah Nabi Yusuf AS berkata : “Ya Rabb! Penjari lebih aku sukai daripada apa yang mereka serukan kepadaku” (QS. Yusuf : 33)

Tidak ada komentar: