Abu Layali
Manusia, makhluk Allah yang mencintai keindahan. Maka, sudah menjadi kewajaran jika kemudian para hamba-hamba Allah ini berusaha semaksimal mungkin untuk tampil indah. Ada segelintir orang yang menghias dirinya dengan baju-baju mahal agar ia bisa membungkus tubuhnya sengan keindahan. Ada beberapa orang yang membeli parfum dan kosmetik hingga jutaan rupiah agar tubuhnya terlihat indah menawan. Ada pula yang membeli perhiasan termahal dan berkilauan agar penampilannya menjadi sempurna dan indah berkilau sekilau batu mutiara yang menghias tubuhnya.
Tapi ada satu hal yang perlu kita tanyakan, itukah keindahan hakiki? Itukah keindahan yang benar -benar bisa membuat manusia dan makhluk lain terpesona dengan kita?
Manusia adalah makhluk yang secara pasti akan berintraksi secara horizontal dan vertical. Interaksi horizontal maka ia secara sunatullah sebagai makhluk yang diamanahi “khalifatu fil ardh” harus berinteraksi dengan sesama makhluk Allah. Maka keindahan, kebersihan, dan kenyamanan akan berpengaruh terhadap tanggapan dari lawan interaksinya. Interaksi Vertikal, sebuah interaksi illahiyah, bagaimana seorang hamba berinteraksi dengan rabbnya, bagaimana seorang hamba menjalin kedekatan dengan Sang Khalik yang Mahaindah. Seorang muslim seharusnya bisa mengkombinasikan keindahan ini pada dirinya
Sesungguhnya Allah Ta'ala indah dan suka kepada keindahan. Allah suka melihat tanda-tanda kenikmatannya pada diri hambaNya, membenci kemelaratan dan yang berlagak melarat. (HR. Muslim)
Sesungguhnya Allah indah dan senang kepada keindahan. Bila seorang ke luar untuk menemui kawan-kawannya hendaklah merapikan dirinya. (HR. Al-Baihaqi)
Akan tetapi, bisa jadi menurut pandangan makhluk, sang hamba ini terlihat indah, tetapi dimata Allah bisa jadi hina dina. Begitu pula sebaliknya, boleh jadi manusia memandang rendah sang hamba, tetapi di mata Allah ia adalah hamba yang indah rupawan dan menawan.
Rasulullah saw, adalah satu diantara hamba-hamba Allah yang mampu mengkombinasikan keindahan baik dalam pandangan makhluk juga dalam pandangan Allah. Beliu adalah hamba Allah yang indah dipandang, murah senyum, pemberi solusi, dan membuat orang akan senang berlama-lama dengannya.
Oleh karena itu, alangkah bahagianya insan yang tidak hanya menghias tubuhnya dengan keindahan – keindahan materi seperti pakaian dan perhiasan, melainkan ia juga menghiasi dirinya dengan perhiasan hakiki yang tidak hanya membuat manusia terpesona tetapi juga para malaikat-Nya terpesona dan Allahpun cinta kepadanya.
Maka diantara keindahan yang harus kita kenakan (selain keindahan materi) pada diri kita diantaranya :
1. Ilmu
Tuntutlah ilmu, sesungguhnya menuntut ilmu adalah pendekatan diri kepada Allah Azza wajalla, dan mengajarkannya kepada orang yang tidak mengetahuinya adalah sodaqoh. Sesungguhnya ilmu pengetahuan menempatkan orangnya, dalam kedudukan terhormat dan mulia (tinggi). Ilmu pengetahuan adalah keindahan bagi ahlinya di dunia dan di akhirat. (HR. Ar-Rabii')
Berapa banyak manusia yang mungkin berkulit hitam, bertubuh biasa, bahkan berpenampilan pas-pasan tapi orang menjadikannya sebagai pelita bagi penerang jiwa. Fisiknya mungkin biasa-biasa saja, tetapi keilmuannya(kealimannya) membuat makhluk Allah terpesona dan senang berada didekatnya.
Diantara manusia ada yang merupakan qori’ Al-Qur’an dan tersohor karena keindahan suaranya, keindahan bacaannya, maka orang-orangpun berkumpul di sekitarnya. Diantara manusia ada yang alim, tersohor dengan ilmunya, dengan fatwa-fatwanya, dengan kesholehannya, kewaro’annya, maka orang-orangpun berkumpul di sekelilingnya.
Karena itu, sudah selayaknya para hamba Allah ini membiasakan diri untuk menambah kemampuan dan kapabilitas yang dimiliki.
Anas Radliyallaahu 'anhu berkata: Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wa Sallam pernah membaca doa: "(artinya = Ya Allah, manfaatkanlah untuk diriku apa yang telah Engkau ajarkan kepadaku, ajarilah aku dengan apa yang bermanfaat bagiku, dan limpahkanlah rizqi ilmu yang bermanfaat bagiku)." Riwayat Nasai dan Hakim.
Menuntut ilmu wajib atas tiap muslim (baik muslimin maupun muslimah). (HR. Ibnu Majah)
Bahkan, Allah SWT pun akan memberikan ganjaran yang luar biasa bagi abdi Allah yang mau berjihad untuk menuntut ilmu. Dan Allahpun membanggakannya melebihi seorang ahli ibadah.
Barangsiapa merintis jalan mencari ilmu maka Allah akan memudahkan baginya jalan ke surga. (HR. Muslim)
Kelebihan seorang alim (ilmuwan) terhadap seorang 'abid (ahli ibadah) ibarat bulan purnama terhadap seluruh bintang. (HR. Abu Dawud )
Dengan ilmu itu maka orang yang berada di sekeliling sang alim akan merasa nyaman dan tentram karena ikut merasa terang benderang bagai pelita yang menghilangkan kegelapan.
Dari Abi Musa Radhiallahu Anhu, katanya Nabi Shalallahu Alaihi wa sallam bersabda, "Perumpamaan petunjuk dan ilmu pengetahuan, yang oleh karena itu Allah mengutus aku untuk menyampaikanya, seperti hujan lebat jatuh ke bumi; bumi itu ada yang subur, menyerap air, menumbuhkan tumbuh-tumbuhan dan rumput-rumput yang banyak. Ada pula yang keras tidak menyerap air sehingga tergenang, maka Allah memberi manfaat dengan hal itu kepada manusia. Mereka dapat minum dan memberi minum (binatang ternak dan sebagainya), dan untuk bercocok tanam. Ada pula hujan yang jatuh kebagian lain, yaitu di atas tanah yang tidak menggenangkan air dan tidak pula menumbuhkan rumput. Begitulah perumpamaan orang yang belajar agama, yang mau memanfaatkan sesuatu yang oleh karena itu Allah mengutus aku menyampaikannya, dipelajarinya dan diajarkannya. Begitu pula perumpamaan orang yang tidak mau memikirkan dan mengambil peduli dengan petunjuk Allah, yang aku diutus untuk menyampaikannya."Abu Abdillah berkata, bahwa Ishaq berkata," Dan ada diantara bagian bumi yang digenangi air, tapi tidak menyerap." (Arti dari Hadts No 79 - Kitab Fathu Bari)
Al Qurtubi dan yang lainnya mengatakan bahwa Rasulullah ketika datang membawa ajaran agama, beliau mengumpamakannya dengan hujan yang diperlukan ketika mereka membutuhkannya. Demikianlah kondisi manusia sebelum Rasulullah diutus. Seperti hujan menghidupkan tanah yang mati, demikian pula ilmu agama dapat menghidupkan hati yang mati.
Kemudian beliau mengumpamakan orang yang mendengarkan ilmu agama dengan berbagai macam tanah yang terkena air hujan, diantara mereka adalah orang alim yang mengamalkan ilmunya dan mengajar. Orang ini seperti tanah subur yang menyerap air sehingga dapat memberi manfaat bagi dirinya, kemudian tanah tersebut dapat menumbuhan tumbuh-tumbuhan sehingga dapat memberi manfaat bagi yang lain.
Diantara mereka ada juga orang yang menghabiskan waktunya untuk menuntut ilmu namun dia tidak mengerjakan, akan tetapi dia mengejarkannya untuk orang lain, maka bagaikan tanah yang tergenangi air sehingga manusia dapat memanfaatkannya. Orang inilah yang diindikasikan dalam sabda beliau, "Allah memperindah seseorang yang mendengar perkataan-perkataanku dan dia mengerjakannya seperti yang dia dengar." Diantara mereka juga ada yang mendengar ilmu namun tidak menghafal atau menjaganya serta mengamalkannya dan tidak pula mengajarkannya kepada orang lain, maka dia seperti tanah yang tidak dapat menerima air sehingga merusak tanah yang ada di sekelilignya.
2. Akhlakul karimah
Akhlak yang mulia adalah cerminan seorang muslim, dan itulah kepribadian yang seharusnya senantiasa melekat pada diri setiap hamba Allah yang bertakwa dimanapun dan kapanpun ia berada.
Rasulullah adalah contoh pribadi yang mampu mempraktekkan akhlak islami dimanapun ia berada. Maka, wajar jika banyak kaum kafirin yang memeluk islam karena terpesona oleh keindahan akhlak beliau. Bahkan Allahpun memuji beliau dengan kemulian akhlak yang dimilikinya.
Dan sesungguhnya bagi kamu benar-benar pahala yang besar yang tidak putus-putusnya. Dan sesungguhnya kamu benar-benar berbudi pekerti yang agung. (QS. Al Qolam: 3-4)
Sesungguhnya aku diutus untuk menyempurnakan akhlak yang mulia. (HR. Al Bazzaar)
Oleh karena itu, rasulullah senantiasa menghimbau para penyeru dakwah agar mensibgah dirinya dengan akhlak yang mulia.
Dari Abu Hurairah Radliyallaahu 'anhu bahwa Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wa Sallam bersabda: "Sesungguhnya kalian tidak akan cukup memberi manusia dengan harta kalian, tetapi kalian akan cukup memberikan kepada mereka dengan wajah yang berseri dan akhlak yang baik." Riwayat Abu Ya'la. Hadits shahih menurut Hakim.
Dalam kesempatan lain, rasulullah mewasiatkan adanya pahala yang begitu melimpah bagi orang-orang yang mampu menjadikan kepribadiannya sebagai kepribadian yang karimah.
Dari Abu Darda' Radliyallaahu 'anhu bahwa Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wa Sallam bersabda: "Tidak ada suatu amal perbuatan pun dalam timbangan yang lebih baik daripada akhlak yang baik." Riwayat Abu Dawud dan Tirmidzi. Hadits shahih menurut Tirmidzi.
Oleh karena itu, sudah selayaknya kita senatiasa berlindung dari keburukan sifat dan sikap dan memohon kepada Allah agar menjaga kita dari nafsu yang menyingkirkan keluhuran akhlak islami.
Dari Quthbah Ibnu Malik Radliyallaahu 'anhu bahwa Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wa Sallam bersabda: "Ya Allah, jauhkanlah diriku dari kejelekan akhlak, perbuatan, hawa nafsu, dan penyakit." Riwayat Tirmidzi. Hadits shahih menurut Hakim dan lafadz ini menurut riwayatnya
Dua sifat tidak akan bertemu dalam diri seorang mukmin yaitu kikir (bakhil) dan akhlak yang buruk. (HR. Ahmad)
Ilmu dan akhlak karimah, sebuah perhiasan yang tak ternilai harganya. Kalaulah seluruh perhiasan yang ada di bumi ini dikenakan pada diri satu orang tidaklah akan cukup ia untuk menjadikan terlihat indah dihadapan Allah dan makhlukNya jika tidak diiringi dengan kealiman dan akhlak yang mulia. Maka, jika dakwah terasa berat karena orang menjauh dari kita dan merasa islam dijauhi oleh manusia. Maka, salah satu pertanyaan yang harus kita jawab oleh masing-masing diri kita adalah “sudahkah kita menghiasi diri dengan ilmu dan akhlak islami?”
Tidak ada kemelaratan yang lebih parah dari kebodohan dan tidak ada harta (kekayaan) yang lebih bermanfaat dari kesempurnaan akal. Tidak ada kesendirian yang lebih terisolir dari ujub (rasa angkuh) dan tidak ada tolong-menolong yang lebih kokoh dari musyawarah. Tidak ada kesempurnaan akal melebihi perencanaan (yang baik dan matang) dan tidak ada kedudukan yang lebih tinggi dari akhlak yang luhur. Tidak ada wara' yang lebih baik dari menjaga diri (memelihara harga dan kehormatan diri), dan tidak ada ibadah yang lebih mengesankan dari tafakur (berpikir), serta tidak ada iman yang lebih sempurna dari sifat malu dan sabar. (HR. Ibnu Majah dan Ath-Thabrani)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar