Udara pagi terasa merasuk ke dalam tulang. Menyambut seluruh penumpang yang terbang jauh dari negeri Timur. Bandara Atta-Turk masih terkantuk walau matahari mulai menyinari. Sinarnya yang lembut sedikit hangat, sebab baru saja masuk musim semi. Bunga-bunga tulip aneka warna mulai memekar, ciptakan suasana asri. Teluk Marmara beriak kecil menyimpan kenangan-kenangan indah. Airnya bersih segar membiru tanpa polusi maupun sampah. Dilintasi jembatan panjang Mahmet Alfatih yang tegak dengan gagah. Bayangan sang pahlawan kini hadir, mengomando torehan emas tinta sejarah. Cicit-cicit khilafah berguguran menyebar tak tentu arah. Rambutnya dikuncir dan dicat berwarna pirang agar bangga sebagai Eropa. Pusar gadis-gadis muslimah dibiarkan menganga padahal bukan Hindi. Mereka duduk berdempetan laki-perempuan tanpa hijab, bercengkrama bagai layaknya muda-mudi di taman negeri-negeri Belanda. Persis seperti daun-daun kering diakhiri musim gugur. Warnanya coklat tua, luruh bertebaran kian kemari dan sebentar lagi akan membusuk menjadi humus.
Adakah duka dan tangisku dimengerti oleh cucu dan cicit khilafah ini. Di tengah derasnya musik rock dan aroma khamar dari gelas-gelas para wanita. Sementara perempuan di sudut kamar itu tengah asyik mengepulkan asap rokoknya. Setiap sudut kota dijejali iklan tarian perut, perangsang syahwat para turis oleh wanita yang meliuk-liukkan tubuhnya.
Masih adakah asa, bahwa khalifah akan kembali jaya. Ditengah sisa-sisa puing sejarah dan benteng kokoh yang terlihat masih berdiri tegak. Piring-piring dan mangkok-mangkok Cina tempat sayur bayam Sulthan dan bala tentaranya. Senjata-senjata perang dan baju-baju besi yang terlihat seram. Penggalan ayat-ayat terpahat di “suhuf” batu-batu yang retak. Semuanya berjejer mengabarkan bagaimana dahulu dakwah Islamiyyah telah pernah jaya walau kemudian tenggelam. Entah kini dipahami sebagai pedoman atau sekerdar pajangan. Agar devisa negara bertambah dan korupsi berlimpah. Semua berlomba menyambut tamu-tamu turis yang berambut hitam, berambut pirang bahkan berambut merah. Iklan dan kata-kata sambutan panjang disetiap kota agar terlihat lebih meriah.
Aya Sohpya diam mematung bagai kakek bisu kehilangan cangklongnya. Padahal disitu terkadung banyak cerita dan perjuangan berdarah-darah. Ia kini telah jadi museum tinggal jadi saksi sejarah. Masjid biru masih melantunkan ayat-ayat Al-Qur’an terasa mulai pusing di telinga sang cicit. Hiasan lampu di seluruh ruangan, aneka keramik dinding biru diselingi kaligrafi bagai ukiran, palingkan setiap wajah dari sang khatib yang sedang berkhubah di atas mimbar. Selesai Jum’atan masjid ini justru penuh sesak oleh turis yang tidak semuanya dari kalangan muslim. Sebab ada yang Nasrani, Yahudi dan juga kaum musrykin. Bahkan kalangan atheis pun datang sambil terheran-heran mengapa masih ada saja orang-orang percaya pada Tuhan.
Mungkinkan hujan rahmat akan diturunkan di negeri Timur. Di kampong kami, yang bernama Indonesia dimana sedikit masyur. Dengan kisah mujahiddin Islam yang pernah mengusir para penjajah hingga tesungkur. Yang tidak segan menjemput maut asalkan beroleh mulia dengan cara mati syahid. Walaupun tidak sering bom-bom hidup yang meledak di seantero kawasan Timur Tengah. Mungkinkah kejayaan Islam dapat diretas kembali. Kemegahan khalifah yang terkadang kurang difahami oleh seluruh penduduk negeri. Namun kami yakin bahwa jika kita sungguh-sungguh berjuang, pertolongan Allah pasti menyertai. Karena hanya Allah pemilik segala tentara handal, yang selalu unggul, selalu menang, selalu menentukan skenarionya.
Kenangan sejarah ini kembali menggugah saat pintu Istambul terbuka dengan senyumnya yang sumringah. Semua buku-buku yang pernah bercerita tentang masa-masa emas kejayaan Khilafah Islamiyyah seolah terpampang dalam halaman-halaman beranda Istambul. Lembar demi lembarnya terlukis jelas di taman-taman luas sekitar Blue Mosque, di Masjid Sulaiman, di istana Topkapi atau dalam rentangan dua kilometer jembatan gantung Mahmet Al-Fatih. Kisah-kisahnya bagai terpahat dan terukir dalam wujud relief-relief setiap liku kota Istambul. Terkenang kembali kemajuan-kemajuan yang pernah diraih kaum muslimin. Dibidang ilmu pengetahuan, dibidang kedokteran, dibidang budaya bahkan dibidang strategi militer.
Teringat kembali jejeran nama-nama besar seperti Muhammad Al-Fatih, Ibnu Sina, Alkhowaris, Abu Musa Jabir, Musa Ibnu Nasair, Al-Qataz, semua Sulthan mulai dari Khilafah Bani Umayyahm, Bani Abasyiyyah sampai kepada Khilafah Turki Utsmani terakhir. Yang Kemudian digerogoti oleh seorang Kemal Pasha dengan bantuan Inggris untuk menduduki tahta utama. Dan membelokkan arah jalan sejarah, sehingga paham sekuler dipaksakan kepada penduduk Turki. Semua yang berbau Arab mesti dienyahkan. Bahkan dari setiap menara masjid bahasa Turki digunakan untuk melantunkan suara azan. Semua paradigma dirubah dan sisa-sisa kejayaan Islam berupaya dilenyapkan. Karena itulah perintah dari seorang Carzon, Menteri Peperangan Inggris yang sudah jadi dipertuan.
Namun, terus terang, tetap masih ada kebanggaan dari sisa-sisa sejarah disini. Bahwa peninggalan Islam dikawasan Eropa yang bernama negeri Turki, bukti-buktinya dengan jelas seolah bercerita.
Akan tetapi struktur bangunan supra struktur Islam memang telah hancur sampai ke akar-akarnya. Tinggalah gedung-gedung Sulthan yang menyimpan kenangan bersejarah. Usah ditanya dimana syakshiyyah islamiyyah, keluarga-keluarga muslim dan masyarakat islami. Dia tinggal di lorong-lorong budaya dan disebagian orang tua yang bermantel tebal, sambil terbungkuk berjalan menuju ke masjid untuk sholat subuh. Apalagi daulah, bahkan berjilbab pun dilarang parlemen, sekalipun ia seorang muslimah. Meskipun, kakek-kakek mereka menuliskan gemilangnya sejarah Islam.
Bila suatu penduduk negeri mulai melepas diri dari pedoman Al-Qur’an dan sunnah seperti yang pernah diingatkan Nabi saw. Kala hajjatul wada’ diatas jabal rahmah, dahulu. Keberkahan, kejayaan kemuliaan akan hilang sekejap. Ibroh bagi yang masih hidup, bahwa mempertahankan wujud Islam dengan tarbiyyah Islamiyyah adalah cara yang ampuh membangun dan mempertahankan ruh-ruh Islam, ibaratnya pohon yang kekar menjulang ke langit dan akar-akarnya menghujam bumi. Wallahu’alam.
Jumat, 30 Januari 2009
Langganan:
Posting Komentar (Atom)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar