Dahulu kala ada seorang anak kecil yang suka bermain dengan pohon apelnya, tiap hari ia menaiki pohon itu, berayun dirantingnya, dan sesekali memetik buahnya, dia sangat senang sekali.....begitu juga pohon apel itu, ia mempunyai teman yang senang mengunjunginya tiap hari dan mengajaknya bermain.
Hari berganti hari, dan tahun-demi tahunpun berlalu.Tiba tiba si anak kecil itu tak pernah mengunjungi lagi pohon apel itu....dan sipohon apel itu pun terus menunggu...
Hingga setelah beberapa tahun berlalu ketika sianak kecil itu sudah beranjak dewasa...ia kembali mengujungi pohon apel itu. Si pohon apel senang melihatnya “Mari kemari main lagi bersamaku” kata pohon apel.
“ Aduh sayang sekali aku tak punya waktu”
“Kalau begitu ada yang bisa aku bantu”tanya pohon apel
“Aku ingin membeli mainan tetapi aku tak punya uang sepeserpun!!”
“ Kalo begitu aku bisa membantumu, kau petik saja semua buah apelku, lalu kau jual kepasar, dan uang yang kau dapat itu bisa kau belikan mainan yang kau suka”
Si anak kecil itupun kemudian memetik semua buah apel itu, ia terlihat senang sekali....tapi hari kemudian berlalu berganti tahun, si anak kecil itu tak pernah lagi mengunjungi pohon apel itu...dan sipohon apel itupun terus menunggu
Maka setelah beberapa tahun berlalu, anak itu kembali lagi dan sudah menjadi seorang dewasa. Kata sipohon apel “ hai...mari kesini main lagi dengan ku, sudah lama aku menantimu”
“Maaf aku tak ada waktu, aku telah menikah kini, dan aku perlu rumah”
“oh...kalo begitu kau petik saja semua rantingku, dan kau bisa buat menjadi sebuah rumah kayu dengannya”
Maka si pemuda itu senang sekali, ia petik semua ranting si pohon apel... tapi waktu berlalu dan pemuda itu kembali melupakan sipohon apel itu.
Sampai akhirnya si pemuda itu datang lagi sudah dalam kondisi menjadi seorang bapak, kata sipohon apel “ lama sekali aku menunggumu, kemarilah main lagi denganku”
“Maaf, anak ku mengajakku berlibur, aku ingin bertamasya kepantai menaiki sampan tapi aku tak punya dana sama sekali”
“ Oh tenanglah aku masih punya batang yang kuat, yang bisa kau gunakan untuk membuat perahu”
Maka waktu berlalu dan ia mulai lupa lagi pada pohon apel itu, sampai ketika waktu telah berlalu dalam hitungan windu, datanglah kembali si anak itu dalam kondisi tua.
Kata sipohon apel “ aduh senang sekali kau datang, tapi aku tak punya lagi buah untuk kau makan, tak punya ranting untuk kau ambil, adan dahan untuk kau naiki”
“Ah aku tak butuh itu...aku sudah tua, jangankan untuk berayun-ayun didahanmu, untuk memakan buahmupun aku tak sanggup”
“Kalau begitu apa yang kau inginkan”
“ Aku tak ingin apa-apa, aku sudah lelah menjalani hidupku. Aku hanya ingin beristirahat didekatmu ini menghabiskan masa senjaku”
Kata sipohon apel itu dengan senyum penuh keteduhan “ Kalo begitu kemarilah...aku masih punya akar yang kuat dan hangat untuk tempat merebahkan tubuhmu....”
Mungkin inilah gambaran seorang anak dan kedua orang tuanya (sipohon apel) bagaimana kita(sianak) ketika kecil dengan riangnya bermain , bercanda dengan orang tua kita. Dan ketika waktu berlalu dan kita tinggal jauh dari mereka, kadang kita mendatanginya hanya ketika butuh, hanya ketika punya masalah...atau sekedar rutinitas formal(Idul Fitri dan Idul Adha)....tapi perhatikanlah orang tua kita yang senantiasa menerima kita dengan penuh kasih, dengan apa adanya, dan dengan segenap apa yang ia sanggup berikan setelah lama kita tinggalkan.
Maka mengapa itu terjadi . Karena orang tua telah terbentuk format cinta dalam dirinya, telah tersibghoh ia dengan energi cinta...maka imbas yang diberikan akan berbeda dengan kondisi anaknya yang mungkin belum pernah mengorbankan harta dan jiwanya .
Sedang orang tua yang telah mengorbankan hartanya untuk mempertahankan buah hati, mengorbankan nyawanya untuk melahirkan sibuah hati......... telah tau apa itu cinta dan bagaimana mengalirkannya sehingga tabiat cinta pun mendarah disana.

1 komentar:
Masya Allah, begitulah kuasa Illahi Robbi yg menciptakan rasa cinta kasih, 1 % cinta-Nya diturunkan ke dunia bisa kita rasakan mengalir disetiap makhluk-Nya. 99% cinta-Nya kelak akan kita nikmati di hari akhir.
Salam sejahtera buat sobatku, semoga tetap dalam lindungan Tuhanmu. Amiin
Tetap istiqomah menduniakan hikmah
Posting Komentar