By Abu Layali
Cinta, sebuah kata yang mungkin telah mengalami degradasi diabad kekinian ini, sebuah penyempitan kata yang membuat ummat ini kehilangan makna cinta itu sendiri.
Sejarah telah membukukan berderet-deret sejarah berbau kecintaan pada lembaran-lembaran tahunnya. Melegendalah Taj Mahal, dikenanglah Romeo-Juliet, diburulah puisi Kharil Gibran, dan membumilah kisah Laila Majnun. Tapi sekali lagi kini cinta telah kehilangan maknanya.
Ketika cinta telah tergeser maknanya ia tidak lebih dari urusan perut, dan “komponen - komponen” dibawahnya.
Sebuah keunikan cinta dan kasih sayang, karena memang disitulah cinta itu hakikinya muncul, ia muncul ketika ada saling memberi, ia terkuak ketika ada saling membangun dan menumbuhkan, dan ia mekar ketika ada saling mengisi.
Dan pada lini lain, ketika cinta itu bersifat menumbuhkan maka sang nabi itupun telah menumbuhkan Aisyah menjadi seorang guru ilmu,pada masa kepulangan sang Nabi itu ke hadapan ilahi, Humaira yang baru berumur 19 tahun itu telah menjadi tempat rujukan fatwa para sahabat.Dan tumbuh pulalah istri istri beliau yang lain seperti bunga-bunga yang unik diantara ribuan bunga sampai-sampai mereka mengatakan “ Tiap kami merasa, kamilah yang paling disayangi rasulullah” .
Sangat menarik ketika islam memperkenalkan pernikahan dengan target untuk mendapatkan “mawadah wa rahmah”. Mawadah ( keelokan fisik ) akan berperan pada rentang tahun-tahun pertama, tapi selanjutnya rahmah (skill,profesionalisme,kepribadian)-lah yang memegang kendali selajutnya. Hingga jangan heran ketika seorang suami yang ditinggal sang istri biasanya akan terkenang bukan pada kecantikannya tetapi pada kepribadiannya, begitu pula sang istri. Dan pada pusaran itulah ia merambah dunia rumah tangga.....saling menumbuhkan,....saling mengembangkan,......saling memberi...sampai pada pagu tertinggi. Maka, cinta sejatinya bukan terletak pada “ aku akan mati jika kau mati”, bukan pada “hidupku sedih tanpamu”, bukan pada “ engkaulah segalanya bagiku”, bukan itu...... karena cinta sejatinya bukan untuk memiliki ,bukan untuk merampas, bukan untuk ke-aku-an, tapi cinta adalah yang selalu membuat obyek yang kita cintai berpendar dan bersinar karena energi cinta kita.
Wanginya mekar bunga dan indahnya kompleksitas alam ini itulah penjabaran cinta sang Khaliq lewat ayat kauliyahnya.
Yang membuat sedih Abu Bakar atas kepergian sang Nabi bukanlah karena ia tidak bersama lagi, tapi karena “ Yang aku sedihkan bukanlah kepergiannya, tetapi karena wahyu yang terhenti”...itulah energi cinta sang nabi kepada umatnya, membentuk para sahabat, menumbuhkan para sahabat menjadi “ khairu ummah”, dan melantunlah untaian kata ummati....ummati dari mulut Rosullah diakhir hayatnya.
Lalu....saat cinta itu merambah pada dunia politik, hakiki ini semakin gamang untuk didefinisikan. Maka, akan dipublikasikan dengan opini apapun kita akan faham bahwa USA menyerang Iraq bukan karena atas nama cinta kepada dunia, tetapi karena mereka mencoba menghanguskan cinta itu sendiri. Kita semua faham fakta itu, karena cinta letaknya bukan pada opini, tetapi pada ejawantah hati.
Akhirnya segempar apapun Israel mengatakan palestine sebagai markas teroris, fakta akhir pulalah yang menisbatkan bahwa palestine-lah negeri tertindas yang terampas cintanya. Maka kata yang melingkupinya bukan lagi Penyerangan rakyat palestine, bukan lagi penteroran rakyat palestine, tapi telah dengan sendirinya menjadi “perjuangan” rakyat palestine.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar